<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Caksub.com &#187; Renungan Buat Kita</title>
	<atom:link href="http://www.caksub.com/category/renungan-buat-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.caksub.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 15:41:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA, Tapi&#8230;</title>
		<link>http://www.caksub.com/aku-tidak-memilih-menjadi-insan-biasa-tapi/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/aku-tidak-memilih-menjadi-insan-biasa-tapi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 21:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.caksub.com/?p=3117</guid>
		<description><![CDATA[Ini sebuah puisi yang luar biasa, ditulis oleh Den Alfange dari Perancis. Saya terima puisi ini dari saudara saya Dwi Malistyo, seorang ayah dan suami yang memiliki motivasi tinggi untuk mencapai kebebasan finansial dan waktu serta suka menularkan motivasi itu kepada orang-orang di sekitarnya. Saya tidak tahu siapa yang menyadur atau menterjemahkan puisi ini dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dropcaps">I</span>ni sebuah puisi yang luar biasa, ditulis oleh Den Alfange dari Perancis. <a href="http://www.caksub.com/">Saya</a> terima puisi ini dari saudara saya Dwi Malistyo, seorang ayah dan suami yang memiliki motivasi tinggi untuk mencapai <strong><a href="http://www.caksub.com/">kebebasan finansial</a></strong> dan waktu serta suka menularkan motivasi itu kepada orang-orang di sekitarnya.</p>
<p>Saya tidak tahu siapa yang menyadur atau menterjemahkan puisi ini dari bahasa aslinya, tapi puisi ini juga saya temukan di blognya Yusuf Yudi Prayudi dan di blognya <a title="Arie Wibowo" rel="nofollow" href="http://ariewb.blogspot.com/" target="_blank">Mas Arie Wibowo</a></p>
<p>Konon puisi Alfange ini sudah menginspirasi jutaan orang di dunia dan mengubah kehidupan banyak orang. Bacalah berulang-ulang dan resapi maknanya, niscaya Anda pun akan memperoleh <a title="inspirasi" href="http://edy4life.com/tag/inspirasi">inspirasi</a> yang mungkin juga akan mengubah kehidupan Anda ke depan. Selamat berkontemplasi.</p>
<p><span id="more-26"> </span></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong>Aku Tidak Memilih Menjadi INSAN BIASA !!!.<br />
</strong></h1>
<p><strong> </strong></p>
<p>Aku tidak memilih menjadi insan biasa</p>
<p>Memang hakku untuk menjadi luar biasa</p>
<p>Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan.</p>
<p>Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung</p>
<p>Rendah diri dan terpedaya karena dilindungi pihak berkuasa</p>
<p>Aku siap menghadapi resiko terencana</p>
<p>Berangan-angan dan membina</p>
<p>Untuk gagal dan sukses</p>
<h1 style="text-align: center;"><strong>Aku Menolak Menukar insentif Dengan Derma</strong></h1>
<p>Aku memilih tantangan hidup daripada derma</p>
<p>Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin,</p>
<p>Kenikmatan mencapai sesuatu, bukan utopia yang basi.</p>
<p>Aku tidak akan menjual kebebasanku,</p>
<p>Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma</p>
<h1 style="text-align: center;"><strong>Aku Tidak Akan Merendahkan Diri !!!.<br />
</strong></h1>
<p>Pada sembarang atasan dan ancaman.</p>
<p>Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani</p>
<p>Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri</p>
<p>Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri</p>
<p>Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata:</p>
<p><strong>“Ini telah kulakukan!”</strong></p>
<p>segalanya ini memberikan makna seorang insan</p>
<p>Den Alfange</p>
<p>(Perancis)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/aku-tidak-memilih-menjadi-insan-biasa-tapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LUAR BIASA !!!, Dua Mahasiswa Asal Afrika Selatan Pergi Haji Naik Sepeda Ontel</title>
		<link>http://www.caksub.com/luar-biasa-dua-mahasiswa-asal-afrika-selatan-pergi-haji-naik-sepeda-ontel/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/luar-biasa-dua-mahasiswa-asal-afrika-selatan-pergi-haji-naik-sepeda-ontel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 21:48:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[naik haji]]></category>
		<category><![CDATA[pergi haji]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.caksub.com/?p=3257</guid>
		<description><![CDATA[Semangat dua pemuda muslim asal Afrika Selatan ini untuk menunaikan rukun Islam ke-5 patut diacungi jempol. Mereka menempuh perjalanan dari Afrika Selatan ke tanah suci dengan mengendarai sepeda. Percaya atau tidak ? Nyatanya, kedua pemuda itu kini sudah berada di tanah suci. Nathim Caimcross, 28 dan Imtiyaz Ahmad Harun, 25, mengungkapkan kebahagiannya begitu masuk ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="caption alignleft" src="http://a.cdn.tendaweb.com/fckfiles/image/dunia/speda.jpg" alt="" width="370" />Semangat dua pemuda muslim asal Afrika Selatan ini untuk menunaikan rukun Islam ke-5 patut diacungi jempol. Mereka menempuh perjalanan dari Afrika Selatan ke tanah suci <strong>dengan mengendarai sepeda</strong>. Percaya atau tidak ?</p>
<p>Nyatanya, kedua pemuda itu kini sudah berada di tanah suci. <strong>Nathim Caimcross</strong>, 28 dan <strong>Imtiyaz Ahmad Harun</strong>, 25, mengungkapkan kebahagiannya begitu masuk ke kota Tabuk, perbatasan negara Saudi. &#8220;Akhirnya kami bisa mewujudkan impian kami menunaikan <strong><a href="http://www.caksub.com/">ibadah haji</a></strong>,&#8221; kata keduanya.</p>
<p>Caimcross, yang bekerja di bagian tata kota di Cape Town mengungkapkan, menggenjot sepeda dari Cape Town ke Arab Saudi tentu saja sangat melelahkan. &#8220;Tapi kami memilih <strong>berangkat haji</strong> dengan cara ini agar kami benar-benar merasakan pengalaman suka duka menjalankan <strong>ibadah haji</strong>,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Caimcross dan Harun berangkat dari Afrika Selatan pada <strong>tanggal 7 Februari</strong>. Mereka bersepeda menyusuri negara-negara Afrika, seperti Bostwana, Zimbabwe, Mozambique, Malawi, Tanzania, Kenya, Turki, Suriah dan Yordania untuk mencapai perbatasan Arab Saudi.</p>
<p>&#8220;Ini haji pertama kami. Kami bisa saja menggunakan pesawat tapi ini adalah impian kami, untuk berangkat haji dengan cara berbeda. Kami memilih sepeda, karena kami berdua memang hobi bersepeda,&#8221; tukas Caimcross.</p>
<p>Setiap hari, kedua pemuda itu bersepeda sejauh 80 sampai 100 kilometer. Mereka beristirahat di masjid-masjid atau mendirikan tenda pada malam hari, kemudian melanjutkan perjalanan usai salat Subuh. Selama di perjalanan mereka bertemu dengan banyak orang yang membantu dan bersikap baik pada mereka.</p>
<p>&#8220;Di setiap tempat yang kami lewati, mereka memberikan sambutan dan mereka antusias ketika tahu bahwa kami sedang dalam perjalanan untuk menunaikan ibadah haji. Soal makanan, tak ada masalah karena banyak orang yang menawari kami makanan,&#8221; tutur Caimcross.</p>
<p>Selama di perjalanan, mereka kadang melewati medan yang sulit berupa pegunungan yang membutuhkan tenaga ekstra untuk menggenjot pedal sepeda. Kendala lainnya adalah bahasa. &#8220;Begitu kami masuk ke negara-negara Arab, kami menggunakan bahasa Arab terutama ketika kami melewati Suriah dan Yordania,&#8221; masih kata Caimcross.</p>
<p>&#8220;Masyarakat di saan juga antusias begitu tahu kami melakukan perjalanan ini untuk impian kami menunaikan ibadah haji,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Caimcross juga mengungkapkan rasa harunya karena banyak orang yang menawarkan bantuan berupa uang dan memberikan apa yang mereka butuhkan, karena keduanya cuma memiliki anggaran sedikit untuk biaya haji.</p>
<p>Secara keseluruhan Caimcross dan Harun melakukan perjalanan selama hampir 9 bulan, melewati 9 negara, dan selama perjalanan mereka tidak mengalami persoalan serius. &#8220;Paling cuma mengganti ban sepeda dan membetulkan rantai pedal, itu yang sering kami lakukan,&#8221; ujar kedua pemuda itu.</p>
<p>Caimcross mengatakan, melakukan <strong><a href="http://www.caksub.com/">perjalanan haji</a></strong> bersepeda memberikan mereka banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan beragam orang dari berbagai negara. &#8220;Kami juga bisa sambil berdakwah, terutama saat kami istirahat pada malam hari,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Caimcross dan Harun adalah <strong>mahasiswa jurusan syariah Islam</strong>. Caimcross punya keahlian di bidang perencanaan kota karena ia pernah ikut pelatihan dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Sedangkan Harun pernah kuliah di jurusan ekonomi.</p>
<p><strong>Keduanya belum menikah</strong> dan hobi berolahraga. Caimcross senang surfing di laut dan Harun lebih suka tinju dan naik gunung. Setelah melaksanakan haji, mereka akan kembali ke Cape Town, Afrika Selatan juga dengan sepeda, melintasi kawasan Afrika Barat. <strong>LUAR BIASA !!!</strong> (ln/AN)</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://www.eramuslim.com/berita/dunia/luar-biasa-dua-pemuda-afrika-selatan-pergi-haji-naik-sepeda.htm">Era Muslim</a></p>
<ul>
<li>Bagi Bapak2 ataupun ibu2 yang ingin mendapatkan informasi <strong>biaya perjalanan ibadah haji</strong> hemat dan murah, <strong>ibadah umroh</strong> dll, <strong>silakan bisa hubungi:</strong> Subhan, SMS: 081 853 854 6</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/luar-biasa-dua-mahasiswa-asal-afrika-selatan-pergi-haji-naik-sepeda-ontel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HAKIKAT PENDERITAAN DAN KENIKMATAN</title>
		<link>http://www.caksub.com/hakikat-penderitaan-dan-kenikmatan/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/hakikat-penderitaan-dan-kenikmatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 08:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/hakikat-penderitaan-dan-kenikmatan.html</guid>
		<description><![CDATA[Di Shaih-nya, Muslim meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihis Sallam yang bersabda, “Pada Hari Kiamat penghuni neraka, yang dulunya penghuni dunia yang paling enak hidupnya didatangkan, lalu dicelupkan sekali saja ke neraka. Pernah merasakan kenikmatan?’ Orang tersebut menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku.’ Penghuni surga, yang dulunya penghuni dunia yang paling menderita didatangkan, lalu dicelupkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.experience-travel.net/fantasyzone/shadowlands/images/tears1.gif" alt="Hakikat Penderitaan" align="left" height="102" width="115" />Di Shaih-nya, Muslim meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihis Sallam yang bersabda,</p>
<p>“Pada <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">Hari Kiamat</a> penghuni neraka, yang dulunya penghuni dunia yang paling enak hidupnya didatangkan, lalu dicelupkan sekali saja ke neraka. Pernah merasakan kenikmatan?’ Orang tersebut menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Tuhanku.’ Penghuni surga, yang dulunya penghuni dunia yang paling menderita didatangkan, lalu dicelupkan sekali saja ke surga. Dikatakan kepadanya, ‘Hai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesengsaraan?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah. Aku tidak pernah merasakan penderitaan dan melihat kesengsaraan sebelum ini’.” (Diriwayatkan Muslim).</p>
<p><strong>Manusia Paling Menderita</strong><span id="more-21"></span><br />
<a href="http://caksub.com/cinta-dunia.html">Di dunia ini</a>, terkadang kita lihat orang Mukmin hidup sengsara, miskin, disiksa, diusir, dan ditindas bangsanya sendiri, hanya karena ia mengatakan laa ilaaha illallah muhammad rasulullah (Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad itu utusan Allah), menolak sujud dan ruku’ kepada selain Allah Ta’ala, serta enggan memberikan salah satu nama atau sifat-Nya kepada selain Dia. Kelak, ia menghuni surga dan didatangi pada Hari Kiamat, lalu dicelupkan di surga. Setelah itu, ia ditanya, “Apakah engkau pernah mengalami penderitaan sebelum ini?”</p>
<p>Kendati melihat berbagai penderitaan selama hidupnya dan mengalami penderitaan panjang semasa diuji, orang Mukmin bersumpah dengan nama Allah Ta’ala pada hari itu. ia yang bukan tipe pembohong semasa hidup di dunia, apakah Anda lihat dia berbohong pada hari mencekam itu?</p>
<p>Jawaban yang diberikan orang Mukmin penghuni surga di atas bukan jawaban bohong dan mengada-ngada. Namun, perasaan yang menguasai dirinya sesudah dicelup ke surga. Di sana, ia lihat istana surga dibangun dari batu bata emas dan perak. Ia lihat sungai-sungai yang dibawahnya mengalir sungai-sungai susu, madu, kharm, dan air, di sebuah pemandangan menakjubkan, yang belum pernah ia lihat di dunia. Di sana, ia lihat tanah surga berasal dari za’faran, lumpurnya dari kesturi, dan krikilnya dari mutiara. Di sana, ia lihat bidadari-bidadari jelita, yang jika salah seorang dari mereka melihat dari langit, tentu ia menutup sinar matahari. Di sana ialihat istana-istana seperti kemah, dibuat dari mutiara dan di dalamnya ada istri-istri orang Mukmin. Di sana ia lihat burung-burung dengan warna-warninya yang amat menarik. Dan, <a href="http://caksub.com/mensyukuri-nikmat-allah-taala.html">seabrek kenikmatan</a> lainnya. Itu semuanya membuatnya lupa kesengsaraan yang pernah ia lihat di dunia. Lalu, ia bersumpah dengan nama Allah Ta’alabahwa ia tidak pernah melihat kesengsaraan dan mengalami penderitaan sebelum ini.</p>
<p><strong>Bagaimana Orang Mukmin Hidup di Dunia?</strong><br />
Orang Mukmin menyadari betul hakikat dunia ketika hidup di dalamnya. ia tahu dunia itu tempat ujian dan jembatan menuju akhirat. Ia hidup di dunia seperti layaknya orang asing, seperti diperintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam ketika bersabda kepada Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma,</p>
<p>“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. (Diriwayatkan At-Tirmidzi).</p>
<p>Ibnu Umar Radhitallahu Anhuma berkata:</p>
<p>“Jika Anda berada di sore hari, Anda jangan menunggu pagi hari. Jika Anda berada di pagi hari, Anda jangan menunggu sore hari. Gunakan sehatmu untuk masa sekitmu dan masa hidupmu untuk masa matimu.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).</p>
<p>Begitulah, ia tahu betul makna kehidupan dunia. Orang asing paham negeri yang ia singgahi itu akan ia tinggalkan pada suatu waktu. Karena itu, ia tidak bertindak layaknya orang mukmin. Begitu juga musafir. Ia dinamakan abirul sabil (pelintas jalan), karena tidak pernah menetap di tempat yang ia lewati, namun ia melewatinya dengan cepat, menuju tempat tinggalnya.<br />
Orang Mukmin hidup dengan perasaan seperti itu. ia selalu “berjalan”. Ia berbekal sebanyak mungkin dengan bekal yang membantunya mengarungi jalan, hingga tiba di tempat tujuan, yaitu surga. Ia juga membekali dirinya dengan senjata untuk melindungi dirinya dari perampok jalanan, yaitu kemaksiatan, yang ingin memotong jalannya dan merampok “assetnya”.</p>
<p><strong>Orang Paling Enak Hidupnya </strong><br />
Sedang orang-orang yang tidak merasakan seperti di atas, maka salah seorang dari mereka, kendati memiliki segudang kenikmatan dunia: harta, tahta, istana, kendaraan, status sosial tinggi, kekuasaan, marga terhormat, pembantu, militer, dan senjata, namun ketika ia dicelupkan ke neraka, lalu merasakan panasnya yang lebih panas enam puluh sembilan kali dari panas versi dunia. Atau ia melihat pohon Zaqqum, yang seandainya satu tetesnya menetes ke dunia, maka satu tetes itu merusak sumber kehidupan seluruh penghuni dunia. Atau ia lihat gigi geraham orang kafir sebesar Gunung Uhud dan kulitnya menebal setebal perjalanan tiga hari. Atau ia lihat air panas diminum penghuni neraka, lalu air panas itu memotong usus-usus mereka. Atau ia lihat barang tambang meleleh ditumpakan ke kepala penghuni neraka. Atau ia lihat langsung tangis penghuni neraka, sumpah serapah, dan penyesalan mereka. Dan, melihat siksa-siksa lain yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terbayang di benak manusia. Maka, ia bersumpah dengan nama Allah Ta’ala bahwa ia tidak pernah merasakan kenikmatan dan memandang sebentar masa hidupnya di dunia, hingga kurang dari masa hidup yang sesungguhnya di dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/hakikat-penderitaan-dan-kenikmatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CONTOH-CONTOH MATI MENGENASKAN</title>
		<link>http://www.caksub.com/contoh-contoh-mati-mengenaskan/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/contoh-contoh-mati-mengenaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2007 08:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/contoh-contoh-mati-mengenaskan.html</guid>
		<description><![CDATA[Orang-Orang yang Aman dari Penderitaan Hati yang kosong dari ras takut kepada Allah Ta’ala terancam mati mengenaskan (su’ul khatimah), sebab rasa takut memotivasi orang untuk selalau bertaubat dan membersihkan diri dari semua kotoran yang mungkinh masuk kepadanya saat ia lengah. Juga mendorongnya menambah pundi-pundi amal shalihnya. Sedang orang yang merasa aman dan terlalu bangga dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang-Orang yang Aman dari Penderitaan<br />
Hati yang kosong dari ras takut kepada Allah Ta’ala terancam mati mengenaskan (su’ul khatimah), sebab rasa takut memotivasi orang untuk selalau bertaubat dan membersihkan diri dari semua kotoran yang mungkinh masuk kepadanya saat ia lengah. Juga mendorongnya menambah pundi-pundi amal shalihnya. Sedang orang yang merasa aman dan terlalu bangga dengan perolehan amalnya, maka biasanya ia malas, suka menunda pengerjaan amal shalih, dan wara’-nya minim, sebab sangat mengandalkan ampunan dan maaf Allah Ta’ala. Karena itu, Hatim Al-Aham berkata:</p>
<p>“Barangsiapa hatinya tidak ingat empat bahaya, ia tertipu dan kemungkinan celaka.<span id="more-20"></span></p>
<p><strong>Pertama,</strong> <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">bahaya Hari Akhirat</a> saat ia berkata, ‘Mereka masuk surga dan aku tidak peduli. Mereka masuk neraka ada aku tidak peduli. ia tidak tahu masuk ke kolompok yang mana.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> ketiika ia diciptakan di tiga kegegalapan. Saat itu, para malaikat memanggil orang-orang celaka (penghuni neraka) dan orang-orang bahagia (penghuni surga) ia tidak tahu apakah dirinya masuk dalam kelompok orang-orang celaka atau orang-orang bahagia.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> saat hari pengumuman status setiap orang. Ia tidak tahu apakah mendapat berita gembira keridhaan Allah kepadanya atau kemurkaan Allah kepadanya.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> saat manusia muncul secara bergelombang. Ia tidak tahu harus berjalan di jalan kelompok yang mana?”</p>
<p><strong>Ketakuatan Orang-Orang Shalih</strong><br />
Orang-orang shalih tidak merasa “aman” seperti orang-orang diatas. Rasa takut mencabik-cabik hati orang-orang shalih dan membuat mata mereka banjir airmata. Yang paling mereka takuti ialah su’ul khatimah. Sufayan Ats-Tsauri kalut memikirkan status dirinya dan su’ul khatimah. Pada suatu hari, ia menangis, lalu berkata, “Aku takut tertulis di Lauh Mahfudz sebagai penghuni neraka. “Ia menangis lagi, lalu berkata, “Aku takut iman dicabut dariku saat beriman.”<br />
Malik bin Dinar berdiri semalam suntuk dengan memegang jenggotnya sambil berkata:</p>
<p>“Tuhanku, engkau tahu siapa penghuni surga dan siapa penghuni neraka. Kira-kira di manakah tempat Malik bin Dinar kelak?”</p>
<p><strong>Cengkraman Setan pada Manusia </strong><br />
Karena kuatnya rasa takut orang-orang shalih pada su’ul khatimah, setan berusaha mengeluarkan mereka dari Islam pada detik-detik akhir kehidupan mereka. Tapi, Allah Ta’ala membuat mereka tegar, dengan kalimat kokoh (Laa Ilaaha Illallah) dan setan pun gagal menjinakan mereka.<br />
Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata:</p>
<p>“Aku hadir di detik-detik akhir kehidupan ayahku. Aku memegang secarik kain untuk mengikat jenggot ayah. Ayah tak sadarkan diri, lalu siuman. Ia berkata dengan isyarat, “Tidak. Tidak.’ Ayah berbuat seperti berulang kali. Aku berkata kepada ayah, ‘Ayah, apa yang terlihat oleh ayah?’ ayah menjawab, ‘Setan berdiri di sandalku dan menggigit jari-jari kakiku, sambil berkata, Ahmad, engkau telah mengalahkanku.’ Aku katakan kepadanya, ‘Tidak. Tidak,’ hingga aku mati nanti.”</p>
<p>Dikatakan kepada Abu ja’far alias Ahmad Al-Qurthubi di saat-saat terakhir hidupnya, “Katakanlah, ‘Laa ilaaha illallah’.” Abu Ja’far alias Ahmad Al-Qurthubi menjawab, ‘Tidak. Tidak.’ Ketika ia siuman dan hal itu diceritakan kepadanya, ia berkata, ‘Dua setan datang kepadaku. Satu di sebelah kananku dan satu lagi di sebelah kiriku. Salah satu dari dua setan itu berkata kepadaku, ‘Matilah dalam keadaan beragama Yahudi, karena Yahudi agama terbaik.’ Setan satunya berkata, ‘Matilah dalam keadaan memeluk agama Kristen, karena Kristen agama terbaik.’ Aku katakan kepada kedua setan itu, ‘Tidak. Masak ini yang kalian berdua katakan kepadaku?”</p>
<p><strong>Kematian Menyakitkan</strong><br />
Kisah-kisah su’ul khatimah yang didengar dan disaksikan langsung oleh orang-orang shalih membuat mereka semakin takut dan meningkatkan <a href="http://caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat.html">persiapan menghadapi akhirat</a>. Di antara kisah ini ialah kisah yang diriwayatkan Ibnu Rajab dari Abdul Aziz bin Abu Rawad yang berkata, “Aku saksikan seseorang diajari mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah, pada akhir kehidupannya. Tapi, ucapannya terakhir malah, ‘Ia mengingkari apa yang Anda katakan.’ Akhirnya, ia meninggal dunia dalam keadaan seperti itu. aku tanya perihal orang itu, lalu mendapat informasi bahwa orang itu pecandu minuman keras. <a href="http://caksub.com/hubungan-antara-dosa-dan-bencana.html">Takutlah dosa</a>, karena dosa itulah yang mencelakakannya.”<br />
Al-Qurthubi meriwayatkan kisah di buku At-Tadzikarah dari Ar-Rabi’ bin Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani –ahli ibadah dari Bashrah-berkata:</p>
<p>“Aku bertemu sejumlah orang di Syam dan dikatakan kepada seseorang, ‘Hai di Fulan, ucapkan kalimat laa ilaaha illallah.’ Orang itu menjawab, ‘Minumlah dan beri aku minuman.’ Dikatakan kepada seseorang di Al-Ahwaz, ‘Katakanlah Laa Ilaaha Illallah.’ Orang itu menyahut, ‘Tambah terus.’ Maskudnya, sebelas, dua belas. Semasa hidupnya, kedua orang pegawai itu. ia masih sibuk menghitung dan menimbang di saat-saat terakhir hidupnya.”</p>
<p>Ibnu Al-Qayyim mengisahkan kisah orang-orang yang hendak meninggal dunia di bukunya, Al-Jawab Al-Kafi. Di antara kisah tersebut ialah kisah berikut ini:</p>
<p>“Dikatakan kepada seseorang, ‘Ucapkan laa ilaaha illallah.’ Orang itu menjawab, ‘Aaah. Aku tidak dapat mengucapkannya.’ Dikatakan kepada orang lain, ‘Ucapkan laa ilaaha illallah.’ Orang itu menjawab, ‘Bidak ini dan itu. engkau kalah.’ Usai berkata seperti itu, orang tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.”</p>
<p>Dikatakan kepada seseorang, “Ucapkan laa ilaaha illallah.” Orang itu malah menyanyikan lagu, hingga meninggal dunia. Hal yang sama dikatakan kepada orang lain, lalu ia menjawab, “Apa yang Anda katakan tidak banyak bermanfaat bagiku. <a href="http://caksub.com/maksiat-penduduk-negeri.html">Tidak ada kemaksiatan</a> yang aku kerjakan.” Usai berkata seperti itu, orang itu meninggal dunia, tanpa mengucapkan laa ilaaha illallah. Ucapan yang sama dikatakan kepada orang lain, lalu ia berkata, “Kalimat itu tidak berguna bagiku. Aku tidak tahu apakah aku pernah shalat karena Allah?” orang itu gagal mengucapkan laa ilaaha illallah. Ucapan yang sama dikatakan kepada orang lain, lalu ia menjawab:</p>
<p>“Sebenarnya, aku ingin sekali mengucapkan kalimat itu. tapi, setiapkali aku hendak mengucapkannya, lidahku terkunci.”</p>
<p>Kita Berdoa minta Ketegaran Kepada Allah<br />
Kisah-kisah di atas mendorong kita mengucapkan berulang-ulang doa yang dulu sering dibaca orang yang dijamin masuk surga, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seperti diriwayatkan At-Tirmidzi,</p>
<p>“Wahai Dzat yang membolak-balik hati, kokohkan hatiku tetap berada di atas agamamu.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).</p>
<p>Orang yang ingin tegar harus berusaha, sebab Allah Ta’ala tidak merubah kondisi suatu masyarakat, hingga mereka sendiri yang merubah diri mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/contoh-contoh-mati-mengenaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CINTA DUNIA</title>
		<link>http://www.caksub.com/cinta-dunia/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/cinta-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2007 06:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/cinta-dunia.html</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kita termasuk Cinta Dunia yang berlebihan, mungkin ada baiknya kita simak berikut: Wanita Tua Renta Berwajah Jelek Al-Ala’ bin Ziyad berkata, “Di mimpiku, aku lihat manusia membuntuti sesuatu, lalu aku ikut membuntutinya. Aku terkejut, ternyata yang mereka buntuti adalah wanita tua renta berwajah buruk dan mengenakan sejumlah pakaian mewah dan perhiasan. Aku bertanya kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apakah kita termasuk <strong>Cinta Dunia</strong> yang berlebihan, mungkin ada baiknya kita simak berikut:</p>
<p><strong>Wanita Tua Renta Berwajah Jelek</strong><br />
Al-Ala’ bin Ziyad berkata, “Di mimpiku, aku lihat manusia membuntuti sesuatu, lalu aku ikut membuntutinya. Aku terkejut, ternyata yang mereka buntuti adalah wanita tua renta berwajah buruk dan mengenakan sejumlah pakaian mewah dan perhiasan. Aku bertanya kepada wanita tua itu, ‘Anda siapa?’ Ia menjawab, <a href="http://caksub.com/cinta-dunia.html">“Aku dunia.”</a> Aku berkata, ‘aku berdoa kepada Allah, agar menjadikanmu  benci padaku.’ Wanita itu menjawab, ‘itu terwujud jika engkau benci uang’.”<br />
Cinta harta pilar atau cinta dunia. Menurut tabiatnya, jiwa cinta harta dan memiliki harta senang hartanya bertambah banyak serta tidak ingin hartanya berkurang. Ini karena ia menduga dirinya pemilik asli harta dan lupa atau dibuat lupa oleh setan bahwa harta itu milik Allah Ta’ala yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.<br />
Selain itu, harta merupakan fitnah bagi manusia, kecuali bagi orang-orang yang tahu hakikat harta. Mereka diberi harta oleh Allah Ta’ala, lalu mereka gunakan ke dalam hal-hal positif. Harta ada di genggam tangan mereka, namun tidak menembus hati mereka. Karena itu, mereka dipuji Allah Ta’ala di al-Qur’an,<span id="more-18"></span></p>
<p>“Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9).</p>
<p>Mereka tidak rela menjadi budak jiwa mereka dan lebih berhasyart menjadi penguasa yang bebas dari tekanan jiwa. Mereka pun memperoleh apa yang mereka idam-idamkan, berhak mendapatkan <a href="http://caksub.com/awaluddin-batubara-sehari-6-juz.html">kesuksesan di dunia dan akhirat</a>.</p>
<p><strong>Tegar Menghadapi Rayuan Harta</strong><br />
Imam Abu Hanifah termasuk orang-orang yang mampu mengalahkan jiwa mereka, tidak ada kekasih selain Allah Ta’ala yang masuk ke hati mereka, dan mereka menolak tunduk kepada selain Dia. Khalifah Al-Mansur memerintahkan Abu Hanifah diberi subsidi sebesar sepulah ribu dirham dan orang yang ditunjuk untuk menjalankan tugas ini adalah Al-Hasan bin Quthubah.<br />
Abu Hanifah sudah merasa uang sebanyak itu dikirim untuknya. Lalu, ia “puasa” tidak bicara dengan siapa pun. Ia seperti tak sadarkan diri. Sesuatu ketika, uang itu tiba dibawa utusan Al-Hasan bin Quhthubah ke rumah Abu Hanifah. Utusan Al-Hasan Quhthubah masuk kerumah Abu Hanifah dengan membawa uang tersebut namun orang-orang berkata, “hari ini, Abu Hanifah tidak bicara sepatah kata pun.” Utusan Al-Hasan bin quhthubah berkata, “Kalau begitu, apa yang mesti aku lakukan?” Orang-orang berkata kepada utusan Al-Hasan bin Quhthubah, “Terserah Anda sendiri.” Lalu, utusan Al-Hasan bin Quhthubah meletakan uang tersebut di salah satu sudut rumah. Uang sepuluh ribu dirham pun berada di tempat itu. ketika Abu Hanifah meninggal dunia, anaknya, Hamad, sedang berpergian. Ketika Hammad datang setelah kematian ayahnya, ia membawa uang sepuluh ribu dirham itu ke rumah Al-Hasan bin Quhthubah. Hammad berkata, “Aku temukan ayahku berwasiat kepada, ‘Jika aku telah dimakamkan, ambillah uang sepuluh dirham di pojok rumah, lalu bawah kepada Al-Hasan bin Quhthubah dan katakan kepadanya, inilah barang yang negkau titipkan kepadaku’.”<br />
Abu Hanifah termasuk orang yang tahu hakikat harta, lalu berinteraksi dengannya berdasarkan pemahaman ini.</p>
<p><strong>Esensi Asset Anda </strong><br />
Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada orang-orang yang dibutakan oleh kerakusan dan hati mereka tertutup, lalu tidak tahu hakikat harta dan fitnahnya, serta mengira seluruh hartanya itu milik mereka, “Manusia berkata, ‘Ini hartaku. Ini hartaku.’ Padahal, harta Anda tidak lain apa yang telah Anda makan hingga habis, pakaian yang Anda kenakan hingga rusak, dan apa yang Anda berikan demi mengharapkan pahala kelak.”<br />
Hakikat ini hanya dipahami orang-orang yang jiwa mereka tidak sudi terjerumus ke dalam “bangkai” (dunia), karena mereka terbiasa membawa jiwa mementingkab hal-hal besar. Jiwa mereka menempeldi hati burung hijau yang terbang melayang-layang di atas lahan surga. Dalam pandangan mereka, dunia tidak lebih dari bangkai dan pencari akhirat tidak layak mengarahkan obsesi kepadanya. Inilah yang dikatakan ibnu Al-Qayyim saat berkata, “Dunia adalah bangkai dan siang itu tidak mau menerkam bangkai.”</p>
<p><strong>Kelezatan Dunia</strong><br />
Orang-orang seperti di atas paham betul esensi dunia dan fitnahnya. Karena itu, mereka lebih mengutamakan <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">akhirat daripada dunia</a>. Mereka bandingkan antara ketidaklanggengan dunia dengan keabadian surga beserta kenikmatannya, lalu mereka memilih sesuatu yang abadi daripada sesuatu yang fana. Apa saja yang ada di dunia sifatnya temporer. Kelezatan juga bersifat sementara dan baru diperoleh setelah mengarungi seabrek kelelahan. Hakikat ini dijelaskan Ibnu Al-Jauzi saat berkata, “Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih tolol dari orang yang mencari kelezatan dunia. Di dunia ini, sebenarnya tidak ada kelezatan. Yang ada ialah istirahat sejenak setelah penderitaan panjang.”</p>
<p>Semoga kita tidak terlalu berlebihan dalam mencintai dunia yang fana ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/cinta-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERASAAN MERASA BERDOSA</title>
		<link>http://www.caksub.com/perasaan-merasa-berdosa/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/perasaan-merasa-berdosa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Sep 2007 06:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/perasaan-merasa-berdosa.html</guid>
		<description><![CDATA[Induk Kemaksiatan Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Induk kemaksiatan, bagi kecil maupun besar, ada tiga: Pertama, keterikatan hati dengan selain Allah, yang tidak lain adalah syirik. Kedua, menuruti dorongan emosi, yaitu dzalim. Ketiga, menuruti kekuatan syahwat yang tidak lain adalah berzina. Sasaran terakhir hati dengan selain Allah Ta’ala ialah syirik dan mengklaim ada Tuhan baru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Induk Kemaksiatan</strong><br />
Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Induk kemaksiatan, bagi kecil maupun besar, ada tiga:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> keterikatan hati dengan selain Allah, yang tidak lain adalah syirik.<br />
<strong> Kedua,</strong> menuruti dorongan emosi, yaitu dzalim.<br />
<strong> Ketiga,</strong> menuruti kekuatan syahwat yang tidak lain adalah berzina.</p>
<p>Sasaran terakhir hati dengan selain Allah Ta’ala ialah syirik dan mengklaim ada Tuhan baru selain Allah Ta’ala. Sasaran terakhir menuruti dorongan emosi adalah membunuh. Dan, sasaran akhir menuruti kekuatan syahwat ialah zina. Ketiga hal itu disebutkan Allah Ta’ala secara bersamaan di ayat berikut,</p>
<p>‘Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina.’ (Al-Furqan: 65).”</p>
<p>Ketiga induk kemaksiatan di atas punya banyak cabang, yang tidak diketahui meyoritas manusia dan mereka tidak menyadari itu <a href="http://caksub.com/hubungan-antara-dosa-dan-bencana.html">dosa yang wajib ditinggalkan</a>. Di antara manusia ada orang yang perasaannya terhadap dosa telah mati, bahkan terhadap dosa-dosa besar sekalipun. Ia sama sekali tidak menganggap besar sebagai dosa besar. Itulah hati yang telah ditutup dengan sumbatan. Akibatnya, hati itu tidak punya nurani dan perasaannya mati, hingga tidak dapat merasakan apa-apa.<span id="more-17"></span></p>
<p><strong>Akrab dengan Kemungkaran</strong><br />
Barangkali, sebab utama problem tidak merasa berdosa pada orang tertentu ialah karena akrab dengan kemungkaran, sebab terlalu sering dikerjakan. Hal ini persis dengan keakraban kita dengan <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">makhluk-makhluk Allah yang besar</a>, seperti langit, apa saja yang ada di dalamnya, bumi berserta apa saja yang ada di atasnya, sebab kita sering melihatnya. Kita baru merasa heran saat mendengar seseorang mendarat di bulan. Kita juga langsung heran ketika ada temuan-temuan baru. Tapi, kita lupa pada sesuatu yang lebih hebat dari temuan-temuan manusia, sebab kita terbiasa melihat makhluk-makhluk Allah itu. Dosa-dosa juga seperti itu jika terlalu sering dikerjakan. Hati menjadi akrab dengannya dan tidak lagi memungkirinya. Inilah yang paling ditakutkan Abu Al-Hasan Az-Zayyat Rahimahullah. Ia berkata:</p>
<p>“Demi Allah, aku tidak peduli dengan <a href="http://caksub.com/maksiat-penduduk-negeri.html">banyaknya kemungkaran dan dosa</a>. Yang paling aku takutkan ialah keakraban hati dengan kemungkaran dan dosa. Sebab, jika sesuatu dikerjakan dengan rutin, maka jiwa menjadi akrab dengannya dan jika jiwa telah akrab dengan sesuatu maka jiwa itu jarang tidak terpengaruh dengannya.”</p>
<p><strong>Tidak merasa dihukum Allah</strong><br />
Yang lebih berbahaya dari sikap akrab dengan kemungkaran ialah sikap tidak peduli dengan hukuman, hingga sampai taraf tidak merasa apa yang telah dikerjakan. Mari kita dengar penuturan Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah tentang orang yang sampai pada tahap ini:</p>
<p>“Ketahuilah, ujian paling besar ialah merasa aman tidak akan mendapatkan siksa setelah mengerjakan dosa. Bisa jadi, hukuman datang belakang. Hukuman paling berat ialah seorang tidak merasakan hukuman itu, lalu hukuman merengut agama, memberangus hati, dan jiwa tidak punya kemampuan memilih dengan baik. Di antara efek hukuman ini ialah tubuh segar bugar dan seluruh keinginan tercapai.”</p>
<p>Contoh lainnya ialah seseorang sudah sekian lama tidak mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah dan ia menganggap biasa dosa ini (tidak shalat Shubuh ber-jama’ah). Ia merasa hatinya tidak sakit dan tahan bantingan menghadapi derita dosa ini. Padahal, generasi pertama Islam mengunjungi sebagian dari mereka yang tidak shalat Shubuh berjama’ah. Barangsiapa sampai pada taraf tidak merasa mendapatkan hukuman dosa, maka kondisinya mengkhawatirkan. Sebab, bisa jadi, itu menjadi cikal bakal “kejatuhan” dirinya dan bukan mustahil ia kembali ke jalan kesesatan. Menurut Ibnu Al-Qayyim, itulah “pembunuhan”. Lebih lengkapnya, Ibnu Al-Qayyim berkata, “Dosa itu luka dan bisa jadi menyebabkan kematian.”</p>
<p>Generasi Sahabat Khawatir Kebaikan mereka tidak diterima Allah<br />
Ada aspek lain yang amat diperhatikan generasi pertama Islam dan jarang di antara kita yang sampai pada tahap ini, yaitu khawatir kebaikan mereka tidak diterima. Tentang generasi tabi’in, salah seorang dari mereka, Al-Hasan Al-Bashri, berkata:</p>
<p>“Aku pernah berjumpa dengan orang-orang yang lebih menghindari hal-hal yang dihalalkan Allah daripada upaya kalian menghindari hal-hal yang diharamkan Allah. Aku juga pernah bertemu orang-orang yang lebih takut kebaikan-kebaikan mereka tidak diterima Allah daripada ketakutan mereka kepada kesalahan-kesalahan mereka.”</p>
<p>Itulah generasi terbaik yang tidak pernah ada lagi untuk kedua kalinya. Mereka tidak seperti kita, yang hanya shalat malam beberapa raka’at dan berinfak dengan beberapa keping uang recehan, lalu mengira sudah berbuat banyak!</p>
<p><strong>Hati yang Hidup</strong><br />
Generasi pertama Islam orang-orang yang berhenti hidup, hati mereka sulit dikotori, dan cinta dunia gagal merusak perasaan berdosa yang mereka miliki. Salah seorang dari mereka selalu ingat satu dosanya selama empat puluh tahun dan merasakan dampaknya. Ubaidillah bin As-suri meriwayatkan perkataan salah seorang generasi tabi’in, Al-Qudwah bin Sirin, yang berkata, “Aku tahu dosa apa yang membuatku dililit hutang. Empat puluh tahun silam, aku pernah berkata kepada seseorang ‘Hai orang bangkrut’.”<br />
Tidak ada seorang pun yang sanggup ingat dosa yang telah terjadi empat puluh tahun yang silam, melainkan orang yang dosanya sedikit, lalu mampu menghitungnya. Ketika kisah tersebut diceritakan Abu Ubaidillah bin As-Suri kepada Abu Sulaiman Ad-Darani, lalu Abu Sulaiman  Ad-Darani berkata, karena itu, ia tahu dari mana datangnya. Sedang dosa-dosaku dan dosa-dosamu banyak. Oleh sebab itu, kita tidak tahu dari mana datangnya.</p>
<p>Begitulah, mereka selalu merasa berdosa. Bahkan, mereka mengaitkan dosanya dengan ujian yang menimpanya. Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dari salah seorang generasi salaf bahwa seseorang memaki dirinya, lalu orang salaf itu menempelkan pipinya ke tanah, sambil berkata, “Ya Allah. Ampunilah dosaku. Karena dosaku, engkau membuat orang ini berkuasa atas diriku.”<br />
Jika mereka tidak dapat melakukan aktivitas ibadah, mereka merasa itu disebabkan dosa yang telah mereka kerjakan. Abu Dawud Al-Hafri berkata, “aku masuk ke rumah Kuez bin Wabira dan mendapatinya menangis. Aku bertanya kepadanya, ‘kenapa Anda menangis?’ Kurz bin Wabirah menjawab, ‘Pintuku tertutup, kehormatanku ternoda, dan tadi malam aku gagal membaca Al-Qur’an seperti biasanya. Itu semua gara-gara satu dosa yang telah aku kerjakan’.”</p>
<p><strong>Manusia yang Paling Hebat Ibadahnya</strong><br />
Orang-orang seperti di atas pantas digelari asy-syahid dan pakar tafsir, Sa’in bin Jubair, sebagai orang-orang yang paling hebat ibadahnya. Ketika ditanya, “Siapa manusia yang paling hebat ibadahnya?” Said bin Jubair menjawab, “Orang yang merasa terluka karena dosa dan jika ia ingat dosanya maka ia memandang kecil amal perbuatannya.”<br />
Itu orang yang hanya mengerjakan satu dosa. Bagaimana dengan orang yang tidak pernah mengerjakan satu pun dosa dan menangisi sebab gagal beramal shalih serta menduga itu disebabkan dosa yang telah dikerjakannya? Bagaimana mungkin dai yang berhati keras dapat disejajarkan dengan mereka? Pantaskah dalam kondisi hati keras itu kita minta kemenangan atas kebatilan?</p>
<p>Renungankanlah&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/perasaan-merasa-berdosa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mensyukuri Nikmat Allah Ta&#8217;ala</title>
		<link>http://www.caksub.com/mensyukuri-nikmat-allah-taala/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/mensyukuri-nikmat-allah-taala/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 09:13:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/mensyukuri-nikmat-allah-taala.html</guid>
		<description><![CDATA[Begitu kita bangun pada dini hari, terasa badan jadi bugar, semangat dan tenaga kerja rasanya pulih dan kembali segar, dan ini salah satu karunia nikmat yang kadang tidak banyak direnungkan dan diperhatikan. Bukankah kita telah merasakan nikmatnya tidur sepanjang malam. Sekujur badan terbujur lemas, lena menerawang di alam mimpi, istirahat pulas menikmati tidur karunia Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begitu kita bangun pada dini hari, terasa badan jadi bugar, semangat dan tenaga kerja rasanya pulih dan kembali segar, dan ini salah satu karunia nikmat yang kadang tidak banyak direnungkan dan diperhatikan. Bukankah kita telah merasakan nikmatnya tidur sepanjang malam. Sekujur badan terbujur lemas, lena menerawang di alam mimpi, istirahat pulas menikmati tidur karunia Allah yang terakar, dan andaikata rasa kantuk itu tak kunjung tiba, berarti nikmatnya tidur tidak akan kita rasakan, apa yang terjadi? Betapa gelisahnya perasaan ini, badan terasa gerah, ini baru sisi kecil dari kehidupan ummat manusia.</p>
<p>Coba kita simak firman Allah, yakni dalam surah Ibrahim ayat 34, Artinya:</p>
<p>“Dan jika kamu menghitung-hitung <a href="http://najlah.blogspot.com/2005/10/puasa-untuk-mensyukuri-nikmat-allah.html">nikmat Allah</a> tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”</p>
<p>Walau sesungguhnya kita patut wajib menyadari segala sesuatu yang telah dianugrahkan Allah kepada kita dari berbagai bentuk dan macam nikmat, nah cobalah kita buktikan Firman Allah tersebut di atas.<span id="more-15"></span></p>
<p>Marilah kita layangkan pandangan kita ke sekeliling lingkungan, bahwasanya <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">setiap makhluk yang hidup</a> di atas permukaan bumi Allah ini sangat tergantung kepada komponen udara yang telah disediakan oleh Maha Pencipta.<br />
Di dalam udara atau hawa, padanya dijumpai berbagai unsur gas, gas oksigen, nitrogen, hidrogeen, helium, zat lemas, argon, kripton dan gas-gas mulia lainnya yang kecil jumlahnya. Jadi sesungguhnya sama sekali tidak ada pabrik gas, karena manusia tak mampu membuat gas. Yang ada hanyalah pabrik memisah-misahkan gas dengan perbedaan titik didih masing-masing gas.<br />
Dari hasil penyelidikan cerdik pandai bahwa pada udara tersebut ditemui dalam prosentasi unsur-unsur gas yang seimbang sebagaimana yang diperlukan oleh umat manusia dan makhluk-makhluk lainnya.</p>
<p>Salah satu unsur gas yang sangat berpotensi bagi hidup dan kesehatan manusia adalah <strong>gas oxygen</strong>. Kebutuhan seorang manusia dalam memenuhi kesehatan memerlukan gas oxygen setiap harinya antara 18-20 %. Allah telah mengatur sedemikian rupa dengan pasti bahwa di dalam udara yang kita hirup saat ini persis dalam prosentasi antara 18-20 %. Andai kata lebih tinggi dari prosentase tersebut, maka suhu udara gerah, panas dan akibatnya mudah terpicu timbulnya kebakaran dimana -mana, dan sebaliknya bila jauh di bawah prosentase tersebut maka yang akan terjadi adalah penduduk susah bernafas, tersengal-sengal karena pernafasan kita terganggu oleh zat lemas yang memenuhi lingkungan hidup kita dan besar kemungkinan keluhan akan berkepanjangan seperti yang telah kita alami beberapa waktu lalu merambanya asap dipenjuru Asia. Maha Besar Engkau ya Allah .!</p>
<p>Untuk lebih meyakinkan diri kita, apa yang dikemukakan tadi, patutlah diketahui atau kalau ada yang telah mendalami anggaplah kita mengulang kajian lama, bahwa <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">seorang manusia</a> sehat dewasa dalam keadaan normal, dalam satu menit kurang lebih 20 (Dua Puluh) kali bernapas. Satu kali bernafas udara kurang lebih 2 liter udara ke dalam rongga-rongga pernapasan, ini berarti semenit akan menghirup kurang lebih 40 liter udara. Kalau sehari semalam (24 jam) kita akan mengkonsumsi 57.600 liter udara, atau dengan kata lain kita telah menggunakan gas oxygen murni (100%) sebanyak 20% dari 57.600 liter udara adalah 11.520 liter oxygen murni seharinya.<br />
Berapa besarkah nilai ekonominya?</p>
<p>Saat ini umum dipasarkan satu tabung oxygen harganya Rp. 40.000 yang isinya 6000 liter yang kadar oxygen antara 97-99% berarti nilai tiap liternya adalah 40.000: 6000 adalah kurang lebih Rp. 6.600 per liter.<br />
Ini berarti seseorang manusia sehat cuma-cuma alias gratis telah menghabiskan gas oxygen setiap harinya dengan nilai 11.520 kali Rp. 6.600 sama dengan Rp. 760.000,- kalau sebulan nilainya menjadi Rp. 22.800.000,-<br />
Nah kalau kita ingin lebih mendalaminya lagi seberapa besar nikmat oxygen yang telah kita hirup selama hidup atau pada usia kita saat ini misalnya 40 tahun, 50 tahun atau 60 tahun rata-rata kita semua yang masih hidup, tertuang kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dalam nilai rupiah saat ini di atas 1 milyar, rasanya memang mustahilkah? Tapi kalau tidak percaya boleh hitung sendiri setelah sampai kerumah, begitu besarnya nikmat Allah kepada hambaNya dan masih sebagian kecil nikmat yang baru kita perhatikan.<br />
Oleh karena itu dalam surat Ar-rahman, Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala mewanti-wanti kepada hambaNya dengan mengulang-ulang 31 kali <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">peringatan bagi umat manusia</a> dengan firmanNya, Artinya:</p>
<p>“NikmatKu manakah lagi yang kamu dustakan.”</p>
<p>Marilah kita bersama-sama meluangkan waktu merenung sejenak di tengah kesibukan mencari nafkah, (baik offline maupun online) betapa besar karunia Allah kepada diri kita, keluarga kerabat kita, bangsa kita dan hamba Allah pada umumnya.</p>
<p>Sebagaimana yang telah kita ketahui dengan nyata sisi-sisi kecil atas nikmat yang telah kita rasakan bernilai sekian besarnya apalagi dalam mengarungi hidup ini, masih akan mengenyam nikmat-nikmat lainnya berupa <a href="http://caksub.com/membuka-pintu-rizki-yang-barakah.html">nikmat kelapangan rizki</a>, nikmat berkeluarga, nikmat kebahagiaan, nikmat kepuasan hidup dan masih setumpuk nikmat lainnya yang sukar menyebutkannya satu persatu.<br />
Sebagai hasil renungan kita atas nikmat ini tentunya menimbulkan kesadaran dari lubuk hati yang dalam, kemudian dituangkan dalam bentuk kesyukuran, dan kesyukuran ini tidaklah punya arti sama sekali jika hanya dalam bentuk lisan semata.</p>
<p><strong>Mensyukuri karunia Allah</strong> harus berupa pengakuan hati kepada kebesaran dan keagungan Allah dalam sikap dan tindakan nyata, berupa membantu hajat hidup orang-orang yang dalam kesempitan, menghibur orang-orang yang dalam kesedihan, orang yang terkena musibah, membantu mereka yang membutuhkan pertolongan, meyantuni anak-anak yatim dan badan-badan amal lainnya. Janganlah berdalih tidak mampu sementara rizki terus mengalir masuk, penuhilah telapak tangan fakir miskin yang sedang mengulas dada tipisnya karena ketiadaan makanan hingga kelaparan berkepanjangan, ceritakanlah, kabarkanlah dan sebarkanlah kepada orang lain betapa nikmat Allah yang telah kita rasakan, ulangilah berkali-kali syukur ini kepada Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Realisasi rasa syukur tersebut, bukanlah suatu perbuatan yang sia-sia, tapi dengan demikian akan mempertebal Iman dan Takwa kepada Maha Pencipta, dan yang terpenting kita akan terhindar dari murka dan siksaan Allah seperti FirmanNya dalam surat Al-An’am ayat 46 yang Artinya:</p>
<p>“Katakanlah, terangkanlah kepadaKu jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kepadamu? Perhatikanlah bagaimana (Kami) berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami) kemudian mereka tetap berpaling juga.”<br />
<strong><br />
Satu hal lagi yang lebih membesarkan hati kita</strong> yakni adanya jaminan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala bagi hambaNya dengan firmanNya dalam surat Ibrahim ayat 7, Artinya:</p>
<p>“Jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian mengingkarinya ingatlah siksaKu sangat pedih.”</p>
<p>Marilah kita memohon kehadirat Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan kufur nikmat dan memberikan limpahan karunia agar kita tetap termasuk dalam golongan yang sedikit yakni golongan orang-orang yang tahu mensyukuri nikmatNya.</p>
<p>Oleh: Drs. M.D. Hakim, Bba</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/mensyukuri-nikmat-allah-taala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka Pintu Rizki Yang Barakah</title>
		<link>http://www.caksub.com/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Aug 2007 03:36:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/membuka-pintu-rizki-yang-barakah.html</guid>
		<description><![CDATA[Diantara buah-buah iman bagi kaum Mukminin antara lain adalah: Pertama, taqwa itu sendiri, menjaga diri dari dosa, ancaman siksa, bahaya dan membuka pintu rizki karena Allah berfirman (QS; Ath Thalaq : 2-3) yang Artinya: &#8220;Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diantara buah-buah iman bagi kaum Mukminin antara lain adalah:<br />
<strong>Pertama,</strong> taqwa itu sendiri, menjaga diri dari dosa, ancaman siksa, bahaya dan <strong>membuka pintu rizki</strong> karena Allah berfirman (QS; Ath Thalaq : 2-3) yang Artinya:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengada-kan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu&#8221;.<span id="more-10"></span></p>
<p><strong>Yang kedua,</strong> iman membuahkan pula <a href="http://caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah.html">taubat dan istighfar</a>; yang akan menebar rizki untuk kita sekalian.<br />
Amiril Mukminin Umar dalam beristisqa’ atau memohon rizki, hanyalah dengan istighfar (Ruhul Maani, 29/72-73)<br />
Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Barang siapa yang memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah) niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihan jalan keluar, untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan <a href="http://blumewahabi.wordpress.com/category/muamalah/">memberikan rizki</a> (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka “(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah)</p>
<p>Allah menegaskan pula dalam (QS: Hud: 3) yang Artinya:</p>
<p>&#8220;Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Aku takut kamu akan ditimpa <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">siksa hari kiamat</a>&#8220;.</p>
<p>Itulah taubat yang menyesali dan menghentikan dosa dan maksiat kemudian menggantikannya dengan amal shalih dan keridhaan sesama.</p>
<p><strong>Ketiga:</strong> Iman membuahkan TAWAKKAL, yaitu berusaha dengan disertai sikap menyandarkan diri hanya kepada Allah yang memberikan kesehatan, rizki, manfaat, bahaya, kekayaan, kemiskinan, hidup dan kematian serta segala yang ada, tawakkal ini akan membukakan rizki dari Allah, sebagaimana janjinya dalam QS: 65 At-Thalaq: 3):</p>
<p>&#8220;Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya&#8221;.</p>
<p><a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam</a> memberikan contoh tentang bertawakkal yang sesungguhnya dengan bersabda:</p>
<p>“Sungguh seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakal niscaya kalian akan diberikan rizki sebagai-mana rizki-rizki burung-burung, mereka berangkat pergi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Timidzi No. 2344).</p>
<p><strong>Keempat:</strong> Iman dan taqwa membuahkan taqarrub yang berupa rajin mengabdi bahkan sepenuhnya mengabdi beribadah kepada Allah lahir bathin khusu dan khudhu.<br />
Beribadah yang sepenuhnya akan dapat membuka rizki Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :</p>
<p>“Rabb kalian berkata; Wahai anak Adam! Beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam! Jangan jauhi Aku, sehingga aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan”. (HR. Al-Hakim: Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah No. 1359).</p>
<p><strong>Kelima:</strong> Iman dan taqwa membimbing hijrah fisabilillah. Perubahan sikap dari yang buruk kepada sikap kebaikan, atau hijrah adalah perpindahan dari negeri kafir, menuju negeri kaum Muslimin, menolong mereka untuk mencapai keridhaan Allah (Tafsir manar, 5: 39)<br />
Hijrah ini membukakan pintu rizki Allah dengan janjiNya dalam surat An-Nisa ayat 100:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang&#8221;.</p>
<p><strong>Keenam:</strong> Iman dan Taqwa membuahkan gemar berinfaq: Yaitu infaq yang dianjurkan agama, seperti kepada fakir miskin, untuk agama Allah. Infak manjadikan pintu rizki terbuka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji dalam QS: Saba: 39)</p>
<p>&#8220;Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendakiNya diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya&#8221;.</p>
<p>Meskipun sedikit, tetap diganti di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir 3/595) jaminan Allah pasti lebih disukai orang yang beriman dari pada harta dunia yang pasti akan binasa (lihat At-Tafsir: Al-Kabir, 25:263) dan berinfak adalah sesuatu yang dicintai Allah (lihat tafsir Takrir wat Tanwir, 22:221).<br />
Para malaikat mendoakan:</p>
<p>“Ya Allah, berikanlah kepada orang-orang berinfak ganti” (HR. Bukhari No. 1442).</p>
<p>Dari Sabda Rasulullah:</p>
<p>“Bukankah kalian diberi rizki karena sebab orang-orang lemah diantara kalian?” Begitu juga termasuk kelompok dhaif orang-orang yang mempelajari ilmu (lihat tafsir Al-Manar, 3:38).</p>
<p><strong>Kemudian Ketujuh,</strong> Iman dan Taqwa membuahkan pula gemar ber-silaturahmi yaitu berbuat baik kepada segenap kerabat dari garis keturunan maupun perkawinan dengan lemah lembut, kasih dan melindungi (Muqatul Mafatih, 8/645)<br />
Silaturahim ini menjadi pintu pembuka rizki adalah karena sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:</p>
<p>“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahmi”. (HR. Bukhari No. 5985)<br />
.<br />
Silaturahim ini menyangkut pula kerabat yang belum Islam atau yang bermaksiat, dengan usaha menyadarkan mereka, buka mendukung kemungkaran atau kemaksiatannya. Namun bila mereka semakin merajalela dengan cara silaturahim ini maka menjauhi adalah yang terbaik, namun tetap kita mohonkan hidayah.</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> melaksanakan ibadah haji dengan umrah, atau umrah dengan hajji yang tulus hanya mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam:</p>
<p>“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesunguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat hilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur itu melainkan Surga.” (Ahmad No. 3669, Timidzi No. 807, Nasa’I 5:115, Ibnu Khuzaimah No. 464, Ibnu Hibban No. 3693)</p>
<p>Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan: agar kita senantiasa ingat apa yang menjamin kita untuk memperoleh rizki Allah yang berkah di dunia dan akhirat. Yaitu Taqwallah, Istiqhfar dan Taubat, Tawakal, Taqarrub dengan ibadah berhijrah, berinfaq, silaturrahim dan segera melaksanakan haji</p>
<p>Oleh: Waznin Mahfudh</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/membuka-pintu-rizki-yang-barakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istighfar dan Taubat Adalah Kunci Rizki Barokah</title>
		<link>http://www.caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Aug 2007 02:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah.html</guid>
		<description><![CDATA[Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.</p>
<p>Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah men-syari’atkan agamaNya hanya sebagai petunjuk bagi ummat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja. Padahal Allah mensyari’atkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.<br />
Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , ia berkata:<span id="more-9"></span></p>
<p>“Sesungguhnya <a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">do’a yang sering diucapkan Nabi</a> adalah, “Wahai Tuhan Kami’ karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari, Kitabud Da’awat, Bab Qaulun Nabi Rabbana Aatina fid Dunya Hasanah, no. Hadist 6389, II/191).</p>
<p>Allah dan RasulNya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari penghidupan. Tapi sebaliknya, sebab-sebab mendapat rizki telah diatur dan dijelaskan. Sekiranya ummat ini mau memahami dan menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini kami ingin menjelaskan tentang berbagai sebab di atas &amp; meluruskan pemahaman yang salah dalam usaha mencari rizki.</p>
<p>Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya:</p>
<p>“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampunlah kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)</p>
<p><strong>Yang dimaksud istighfar dan taubat</strong> di sini bukan hanya sekedar diucap di lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”<br />
Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">menyesali dosa yang telah dilakukan</a>, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.</p>
<p>Begitu pula Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka <strong>syaratnya ada tiga:</strong></p>
<p>1. Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.<br />
2. Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.<br />
3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.</p>
<p><strong>Jika salah satu syarat hilang,</strong> maka <strong>taubatnya tidak sah</strong>. Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa qhibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (surat Nuh: 10-12) berkata:</p>
<p>“Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya, niscaya Ia akan memperbanyak rizki kalian, Ia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu, memperbanyak harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun untuk kalian&#8221;.</p>
<p>Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata:</p>
<p>“Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya, ’Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’ maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula),’Beristighfarlah kepada Allah!&#8221;.</p>
<p>Kemudian di ayat yang lain Allah yang menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar.</p>
<p>“Dan (Hud berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia kan menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan membawa kekuatan kepada kekuatanmu dan juga janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan:</p>
<p>“Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sehingga dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintah-kan bertaubat untuk waktu yang mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaanya&#8221;.</p>
<p>dan pada surat Hud di ayat yang lain Allah juga berfirman:</p>
<p>“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya (jika kamu mengerjakan yang demikian (niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud: 3).</p>
<p>Imam Al-Qurthubi mengatakan:”<a href="http://caksub.com/hubungan-antara-dosa-dan-bencana.html">Inilah buah istighfar dan taubat</a>. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.”</p>
<p>Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (AlMustadrak, 4/262) dan Syaikh Ahmad Muhammad Syaikh (Hamisy Al-Musnad, 4/55)</p>
<p>Dalam hadist yang mulia ini, Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Esa, Yang memiliki kekuatan akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak pernah diharapkan serta tidak pernah terbersit dalam hati.<br />
Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaklah kita selalu waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta.</p>
<p><strong>Dari penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:</strong></p>
<p><strong>1. Bahwasannya telah disyari’atkan oleh Allah</strong> kepada kita untuk senantiasa ber-istighfar dan taubat dengan lisan yang disertai perbuatan. Karena istighfar dan taubat dengan lisan semata tanpa disertai dengan perbuatan adalah pekerjaan para pendusta.</p>
<p><strong>2. Bahwasannya dengan istighfar dan taubat, Allah akan mengampuni dosa-dosa hambaNya,</strong> Allah akan menurunkan hujan yang lebat, Allah akan memperbanyak harta dan anak-anak, Allah akan menjadikan untuknya kebun yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Jadi dengan istighfar dan taubat, Allah akan membukakan pintu-pintu rizki dan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi.</p>
<p>oleh: Anton Zamroni</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maksiat Penduduk Negeri</title>
		<link>http://www.caksub.com/maksiat-penduduk-negeri/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/maksiat-penduduk-negeri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Aug 2007 04:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan Buat Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/maksiat-penduduk-negeri.html</guid>
		<description><![CDATA[Taqwa adalah bekal seorang hamba ketika ia menghadap kepada Sang Pencipta, bekal yang kelak menjadi hujah baginya di hadapan Tuhannya, bahwa kehidupannya dialam dunia telah dipergunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah, marilah kita perbaiki dan satukan niat serta tekad, untuk meraih predikat golongan mahluk Allah yang muttaqin yang selalu meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Taqwa adalah bekal seorang hamba ketika ia menghadap kepada Sang Pencipta, bekal yang kelak menjadi hujah baginya di hadapan Tuhannya, bahwa kehidupannya dialam dunia telah dipergunakan sebaik-baiknya. Untuk itulah, marilah kita perbaiki dan satukan niat serta tekad, untuk meraih predikat <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">golongan mahluk Allah</a> yang muttaqin yang selalu meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, untuk dapat mengambil apa-apa yang telah dijanjikan, berupa kehidupan yang baik di dunia dan Surga yang abadi kelak di akhirat.</p>
<p>“Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Al-baqarah: 197).<br />
“Sesungguhnya orang-orang bertaqwa itu berada dalam Surga (taman-taman) dan (didekat) mata air-mata air yang mengalir”. (Al-Hijr: 45).<span id="more-8"></span></p>
<p>Allah ciptakan mahluk dan Allah sertakan bersama mereka nabi-nabi dan rasul-rasul sebagai utusan yang menerangkan dan menjelaskan konsep tatanan hidup selama berada di alam yang serba cepat dan fana ini, Allah turunkan pula kitab-kitab-Nyabersama para utusan-utusan itu, sebagai aturan main di dalam dunia, baik hubungan sesama mahluk, lebih-lebih hubungan mahluk dengan penciptanya. Di antara kitab-kitab yang Allah turunkan ialah Al-Qur&#8217;an, mu’jizat nabi mulia yang menjelaskan tuntunan Allah, aturan terakhir penutup para nabi dan rasul.</p>
<p>“Sesungguhnya kami telah pengutusmu (muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan”. (Al-Baqarah: 119).</p>
<p><a href="http://caksub.com/awaluddin-batubara-sehari-6-juz.html">Allah turunkan Al-Qur’an</a> untuk menyelesaikan masalah-masalah di antara mereka dan juga untuk mengingatkan mereka akan yaumul mii’aad yaitu hari pembalasan terhadap apa-apa yang telah dilakukan oleh para penghuni alam dunia.</p>
<p>“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”. (An-Nalh: 44).</p>
<p>Akan tetapi di balik semua itu, realita yang terjadi, kita sering dan teramat sering dikejutkan dan dibuat prihatin dengan musibah yang acap kali menimpa negeri ini. Masih terngiang ditelinga kita peristiwa gempa bumi yang terjadi beberapa waktu yang lalu, yang memakan korban manusia dan memaksa mengungsi dari tempat-tempat mereka, banjir yang berulang kali terjadi di beberapa tempat, padahal baru kemarin kita merasakan beratnya kemarau panjang, gunung di beberapa tempat sudah mulai aktif dan memuntahkan isi kandungannya, huru-hara terjadi diberbagai kota diiringi hancurnya tempat-tempat tinggal dan pusat-pusat keramaian dengan kobaran api yang melalap baik materi maupun sosok-sosok jiwa sebagai pelengkapnya, pembantaian yang telah dan terus berlangsung secara biadab terjadi di beberapa tempat dan entah berapa tempat lagi yang akan terjadi di belahan negeri ini, busung lapar anak manusia negeri ini sering kita dengar meskipun katanya kita berada di negeri subur nan tropis, dengan disusul jatuhnya nilai rupiah yang mengakibatkan krisis moneter yang berdampak kemiskinan, pengangguran dan kelaparan masih saja kita rasakan, penyakit-pernyakit aneh dan kotor mulai merebak dan meng-gerogoti penduduk negeri ini dan berbagai musibah yang telah menghadang di hadapan mata, termasuk di dalam hancurnya generasi-generasi muda penerus bangsa ini disebabkan terha-nyut dan tenggelam bersama obat-obat setan yang terlarang.</p>
<p>Apakah <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">adzab</a> telah mengintai negeri ini, sebagaimana yang tersurat di dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 25, kaum Nuh yang Allah tenggelamkan dikarenakan mendustakan seorang rasul, atau kaum Tsamud yang disebabkan tak beriman, membusungkan dada dan menantang datangnya adzab, Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan dengan gempa yang mengguncang mereka, atau seperti kaum Luth yang dikarenakan perzinaan sesama jenis, homosexsual, Allah hujani mereka dengan batu, atau seperti kaum Madyan yang Allah jadikan mereka mayat-mayat yang bergelimpangan disebabkan curang dalam takaran dan timbangan serta membuat kerusakan dimuka bumi dan menghalangi orang untuk beriman, atau seperti kaum ‘Aad yang disebabkan tidak memurnikan tauhid dan bersujud kepadaNya, Allah kirim kepada mereka angin yang sangat panas yang memusnahkan mereka.<br />
Kaum-kaum terdahulu Allah hancurkan dan luluh lantahkan disebabkan satu dua kemungkaran yang dikepalai kesyirikan, sekarang bagaiman dengan kita, apa yang kita saksikan dan alami sekarang ini, apa yang terjadi ditempat kita, lingkungan kita, dikota kita, dan bahkan di seantero negeri kita?, maksiat terjadi dimana-mana, pergaulan lawan jenis dan perzinaan yang keluar dari norma-norma agama semakin menggila, ditambah lagi media-media masa visual dan non-visual ikut melengkapi ajang syaitan ini dengan dalih seni dan hak-hak manusia, padahal Allah dan RasulNya telah jelas-jelas mengharamkan hal tersebut. Firman Allah:</p>
<p>“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk” (Al-Isra’: 32).</p>
<p>Dan dalam sebuah hadits shahih Rasul bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa di antara kalian yang menemui mereka yang melakukan perbuatan kaum Luth (homosexsual) maka bunuhlah kedua pelakunya”. (riwayat Abu dawud dan At-Tirmidzi).</p>
<p>Kemana hak Allah dan RasulNya?. Kecurangan dalam perniagaan yang terjadi pada kaum Madyan pun terjadi sekarang, kecurangan bukan hanya curang dalam timbangan secara zhahir, tetapi penindasan, tipu muslihat, sampai kepada sogok menyogok dan riba pun seakan suatu yang harus dilakukan, kemana firman Allah:</p>
<p>“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang”. (Al-Muthaffifin:1).</p>
<p>Dan Rasulpun melaknat orang yang menyogok dan yang disogok, sebagaimana hadis shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.<br />
Berbagai bentuk perjudian pun digelar, pembunuhan yang tanpa memperhitungkan nilai kemanusiaan dan agama pun terus terjadi silih berganti, padahal Rasul Shalallaahu alaihi wasalam telah memperingatkan untuk meninggalkan tujuh hal yang menghancurkan.</p>
<p>“Jauhilah tujuh hal yang menghancurkan (membina-sakan)”. Bertanya para sahabat, apa itu yang Rasulullah?, bersabda beliau: “Syirik (menyekutukan Allah), membunuh jiwa yang Allah haramkan, kecuali yang dibenarkan syari’at, sihir (tenung dan santet), memakan riba, memakan (menyelewengkan) harta anak yatim, lari dari pertempuran (karena takut), menuduh wanita baik-baik berzina”. (Ash-Shahihain).</p>
<p>Akan tetapi semua ini berlaku, perbuatan syirik yang merupakan biang malapetaka dunia dan akhirat kini seolah telah menjadi sesuatu kebutuhan, berapa banyak kita dapati media masa yang menjajakan kesyirikan, ulama-ulama sesat menyeru umat kepada perbuatan syirik dengan membungkus sedemikian rupa untuk menipu umat, dan kini mereka telah menancapkan kaki-kaki mereka.</p>
<p>Segala sesuatunya kini telah terbalik, yang hak dikatakan dan dianggap batil, yang batil dipertahankan, dan tidak malu-malu di hadapan yang hak. Siapakah yang bertanggung jawab akan hal ini?, yang jelas kita semua bertanggung jawab, kita sebagai umara’, ulama maupun pribadi-pribadi muslim.</p>
<p>“Jikalau sekiranya penduduk-penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).</p>
<p>Islam adalah satu-satunya ajaran yang menjamin ketenteraman dan kesejahteraan hidup, tidak saja di dunia, tetapi bahkan di akhirat, sebab ajaran ini adalah ajaran dari Dzat yang maha memberikan jaminan bagi kebutuhan insan.</p>
<p>Untuk menyelamatkan negeri dan umat ini tidak lain adalah kita kembali memurnikan dan menegakkan ajaran Allah pencipta kita, ketika umat semakin jauh dari ajarannya semakin gencar pula azab yang akan diterima dan ditimpahkan, oleh karena itu ada baiknya kita menilik kembali perkataan Syaikh Ali Hasan Al-Atsari bahwa tidak ada jalan lain dalam mengembalikan umat dan memperbaiki umat ini kecuali dengan tashfiyah dan tarbiyah sebagaimana yang disebutkan di dalam kitabnya “At-Tashfiah wat Tarbiyah”, “Bahwa kondisi yang buruk yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah akibat terlalu jauhnya mereka dari kitab Allah dan sunnah RasulNya “. Kenapa hal itu bisa terjadi, Syaikh Abdurrahman Ibnu Yahya Al-Muallimi Al-Yamani tokoh ulama salaf abad XIV H yang dinukil dalam buku At-Tashfiah wat Tarbiyah hal 19-20 bahwa:</p>
<p><strong>Hal itu terpulang pada tiga persoalan:</strong></p>
<p>1. Tercampurnya ajaran yang bukan dari Islam dengan ajaran Islam.<br />
2. Lemahnya kepercayaan orang akan apa yang menjadi ajaran Islam.<br />
3. Tidak adanya pengamalan (penerapan) terhadap hukum-hukum Islam.</p>
<p>Syaikh Ali Hasan Al-Atsari melanjutkan dalam kitabnya bahwa ada tiga hal pokok yang mendasar dalam mengatur sistem tarbiyah (pembinaan) yang merupakan rangkaian dari tashfiyah.</p>
<p>1. Menitik beratkan pada kebangkitan aqidah tauhid dan pembersihan dari segala bentuk bid’ah dan penyelewengan-penyelewengannya.</p>
<p>2. Barometer semua pembinaan adalah Al-Qur’an dan As-Sunah. Dengan praktek-praktek yang diterapkan para salafus shalih dan ulama-ulama rabbani yang mengakar pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan As-Sunah.</p>
<p>3. Bahwa tarbiyah haruslah menyangkut pengarahan umum yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari, seperti keyakinan, norma-norma, adat-adat, tradisi, kegiatan kantor, politik, sosial dan seterusnya (At-Tashfiah wat Tarbiyah hal. 101).</p>
<p>Yang terakhir, Apakah keadaan dan kenyataan yang menimpa kita selama ini tidak menjadikan kita berfikir dan berbenah diri untuk hidup yang akan datang, kehidupan abadi yang menentukan sengsara atau bahagia.</p>
<p>“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur”. (Al-A’raf: 97).</p>
<p>“Maka apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidaklah merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi”. (Al-A’raf: 99).</p>
<p>Oleh: Syafaruddin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/maksiat-penduduk-negeri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

