<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Caksub.com &#187; Pengembangan Diri</title>
	<atom:link href="http://www.caksub.com/category/pengembangan-diri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.caksub.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 15:41:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Wisata Rafting Obech Pacet</title>
		<link>http://www.caksub.com/wisata-rafting-obech-pacet/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/wisata-rafting-obech-pacet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 11:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.caksub.com/?p=5785</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5786" class="wp-caption aligncenter" style="width: 496px"><a href="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_1.jpg"><img class="size-medium wp-image-5786" title="Wisata Rafting Obech" src="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_1-300x238.jpg" alt="" width="486" height="385" /></a><p class="wp-caption-text">Wisata Rafting Obech</p></div>
<div id="attachment_5787" class="wp-caption aligncenter" style="width: 496px"><a href="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_2.jpg"><img class="size-medium wp-image-5787" title="wisata arum jeram obech" src="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_2-300x238.jpg" alt="" width="486" height="385" /></a><p class="wp-caption-text">Wisata Obech</p></div>
<div id="attachment_5790" class="wp-caption aligncenter" style="width: 496px"><a href="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_3.jpg"><img class="size-medium wp-image-5790" title="obech rafting" src="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_3-300x238.jpg" alt="" width="486" height="358" /></a><p class="wp-caption-text">Wisata Obech Rafting</p></div>
<div id="attachment_5791" class="wp-caption aligncenter" style="width: 496px"><a href="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_4.jpg"><img class="size-medium wp-image-5791" title="wisata obech rafting" src="http://www.caksub.com/wp-content/uploads/2012/01/Photo_4-300x237.jpg" alt="" width="486" height="358" /></a><p class="wp-caption-text">wisata obech</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/wisata-rafting-obech-pacet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Caksub ingin Seperti Liew Cheon Fong, Fulltime Blogger Pertama Malaysia</title>
		<link>http://www.caksub.com/caksub-ingin-seperti-liew-cheon-fong-fulltime-blogger-pertama-malaysia/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/caksub-ingin-seperti-liew-cheon-fong-fulltime-blogger-pertama-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 05:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[fulltime blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Fulltime Blogger Pertama Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Liew Cheon Fong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar nama Liew Cheon Fong? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca ebook Chitika BlogBash. Chitika menyebut Cheon Fong—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-bookmark namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah dengar nama <strong>Liew Cheon Fong</strong>? Belum? Sama dong kalau begitu. Hehehe… Nama ini pertama kali saya tahu saat membaca <a href="http://www.bestebook.info" target="_blank">ebook</a> <a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=b6%2BblJuraa%2BaluKnaKqhkZSqZauhmpqo8">Chitika BlogBash</a>. Chitika menyebut <a rel="nofollow" href="http://www.liewcf.com" target="_blank">Cheon Fong</a>—atau biasa dikenal dengan nickname LcF, sebagai salah satu blogger populer di Asia Tenggara. Dan yang membuat saya kemudian mem-<em>bookmark</em> namanya di urutan pertama dalam ingatan saya adalah bahwa Cheon Fong tinggal di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia" target="_blank">Malaysia</a>.</p>
<p>Sebuah fakta menarik mengetahui <a href="http://chitika.com/">Chitika</a> mengundang seorang blogger Malaysia dalam proyeknya. Di ebook tersebut terdapat nama-nama besar seperti <a rel="nofollow" href="http://www.problogger.net" target="_blank">Darren Rowse</a>, <a rel="nofollow" href="http://www.joelcomm.com" target="_blank">Joel Comm</a>, <a rel="nofollow" href="http://www.seobook.com" target="_blank">Aaron Wall</a>, <a rel="nofollow" href="http://www.dailyblogtips.com" target="_blank">Daniel Scocco</a>, <a rel="nofollow" href="http://www.gizmodo.com" target="_blank">Chris Batty</a>, <a rel="nofollow" href="http://www.blogpire.com" target="_blank">Jay Brewer</a> dan lain-lainnya yang sudah diakui sebagai master blogger. Itu artinya Cheon Fong adalah seorang blogger yang sudah diperhitungkan kemampuannya (setidaknya oleh Chitika) sehingga namanya terdaftar di antara para master blogger dunia. Hmmm, tentu Anda jadi penasaran sehebat apa sih si LcF ini, bukan?<span id="more-397"></span></p>
<div class="fullpost">Rupanya Cheon Fong memang bukan blogger sembarangan, Saudara-saudara. Ia tercatat sebagai <strong>fulltime blogger pertama di Malaysia</strong>. Maksudnya tentu saja orang yang bekerja dan menghasilkan uang semata-mata dengan blog. Nah, buat Anda yang berniat menjadi fulltime blogger, pengalaman Liew Cheon Fong ini patut disimak baik-baik.</p>
<p>Awalnya Cheon Fong adalah seorang programmer sekaligus webmaster profesional di sebuah perusahaan kosmetik lokal. Sejak tahun 2005 ia mengenal blog dan mengisi waktu luangnya untuk mengurus blog. Pertama-tama hanya iseng-iseng menyalurkan hobi. Seiring berjalannya waktu, ternyata dari blognya itu ia mampu memperoleh penghasilan sebanyak gaji bulanannya. Iapun mulai berpikir untuk keluar dari pekerjaan dan menekuni profesi sebagai fulltime blogger.</p>
<p>Sebuah pemikiran hebat. Tidak semua orang berani meninggalkan pekerjaan tetap dengan gaji rutin yang sudah pasti demi menjadi fulltime blogger, profesi yang sekilas pandang tidak begitu menjanjikan karena penghasilannya tidak jelas. Terlebih waktu itu blog dan blogging belum begitu populer di Malaysia. Namun Cheon Fong sudah bulat tekadnya. 18 Agustus 2005 ia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, kemudian memfokuskan diri menjadi fulltime blogger sejak 9 September 2005.</p>
<p>Sudah bisa ditebak kalau kemudian Cheon Fong menerima banyak pertanyaan dari keluarga besarnya. Karena tak satupun anggota keluarganya yang paham apa itu blog, blogging, ataupun blogger, Cheon Fong hanya menjelaskan kalau ia ingin bekerja di rumah dengan memanfaatkan internet. Keluarganya mendukung keputusan tersebut meskipun tidak begitu mengerti apa maksud Cheon Fong. Lucunya, sampai saat inipun ibunya tidak mengerti apa yang dilakukan Cheon Fong sampai bisa menerima cek secara rutin setiap bulan. Hehehe, ada yang punya pengalaman serupa?</p>
<p>Jalan Cheon Fong tak selalu mulus. Ia justru menerima banyak komentar negatif dari pembaca blognya saat menceritakan niat tersebut. Beberapa orang menertawakan bahasa Inggris-nya yang masih berantakan, sementara sebagian lagi memintanya untuk bersikap reaslistis karena blogger bukanlah sebuah profesi ataupun pekerjaan. Cheon Fong tak terpengaruh. Ia menganggap komentar-komentar negatif itu sebagai angin lalu dan terus melangkah. Terbukti sekarang ia bisa hidup enak dengan penghasilan berlimpah sebagai fulltime blogger.</p>
<p>Kesuksesan Cheon Fong segera menginspirasi blogger-blogger Malaysia untuk mengikuti jejaknya. Meskipun diakuinya penghasilan dari blog masih belum begitu besar, namun Cheon Fong merasakan hidup sebagai fulltime blogger benar-benar menyenangkan. Tidak hanya jam kerja yang seenaknya, ia juga jadi memiliki banyak waktu luang bersama keluarga dan kebebasan untuk bepergian ke mana saja kapanpun. Hal ini tentu tidak mungkin ia dapatkan kalau masih menjadi karyawan.</p>
<p>Jujur saja, setelah membaca kisah ini saya jadi sangat termotivasi untuk menjadi fulltime blogger. dan dengan dukungan dari istri tercinta, pada pertengahan januari 2008 saya memutuskan keluar dari kantor <a href="http://Cendana2000.com">PT.Cendana2000</a> yang sudah hampir 10 tahun saya bekerja di sana. dengan kerja keras di iringi doa, InsyaAllah saya optimis bisa segera menyusul Liew Cheon Fong <img src='http://www.caksub.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Amin. Bagaimana dengan Anda?</div>
<p>Sumber Inspirasi:<br />
<a href="http://www.ekonurhuda.com/">Mas Eko Nur Huda</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/caksub-ingin-seperti-liew-cheon-fong-fulltime-blogger-pertama-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Racun Hati</title>
		<link>http://www.caksub.com/empat-racun-hati/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/empat-racun-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Dec 2007 03:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/empat-racun-hati.html</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat. Amma ba&#8217;du. Allah berfirman: &#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya. (Al-Isra&#8217;: 36)&#8221; Sesuatu yang paling mulia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada<br />
Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan para pengikut yang setia sampai hari kiamat.<br />
Amma ba&#8217;du. Allah berfirman:</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai<br />
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan<br />
hati, semuanya itu akan diminta <a href="http://caksub.com/hakikat-penderitaan-dan-kenikmatan.html">pertanggungjawabnya</a>. (Al-Isra&#8217;: 36)&#8221;<span id="more-22"></span></p>
<p>Sesuatu yang paling mulia pada diri manusia ialah <strong>hatinya</strong>. Peran hati terhadap<br />
seluruh anggota badan, ibarat raja terhadap para prajuritnya. Semua bekerja atas<br />
dasar perintahnya dan <a href="http://caksub.com/nilai-kepemimpinan-lelaki-kepatuhan-wanita.html">tunduk kepadanya</a>. Pada kemudian hari nanti, hati akan ditanya<br />
tentang para <strong>prajuritnya</strong>. Sebab setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas yang<br />
dipimpinnya.</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p>&#8220;Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik<br />
pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh<br />
tubuh. Ketahuilah, itu adalah hat. (HR. Bukhari dan Muslim)&#8221;</p>
<p>Abu Hurairah berkata:</p>
<p>Hati adalah raja anggota tubuh. Dan anggota tubuh adalah para<br />
prajuritnya. Apabila raja baik, maka baik pulalah para prajuritnya. Dan<br />
apabila raja busuk, maka busuk pulalah para prajuritnya.</p>
<p>Semoga kita bisa menjaga hati kita agar selamat <a href="http://caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat.html">dunia akhirat</a></p>
<p>Oleh : Abdullah Shalih Al-Hadrami</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/empat-racun-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CONTOH FIGUR-FIGUR YANG BEROBSESI KEPADA AKHIRAT</title>
		<link>http://www.caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 04:28:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat.html</guid>
		<description><![CDATA[Figur-Figur dari Generasi Sahabat Generasi sahabat generasi istimewa dan tidak ada generasi sesudahnya yang selevel dengan mereka. Para sahabat menyatu dengan akhirat, hingga seperti sedang, hidup di dalamnya dan obsesi kepadanya begitu menguasai diri mereka. Seorang dari mereka minta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengebiri dirinya, agar bisa beribadah dengan lebih serius. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Figur-Figur dari Generasi Sahabat</strong><br />
Generasi sahabat generasi istimewa dan tidak ada generasi sesudahnya yang selevel dengan mereka. Para sahabat menyatu dengan akhirat, hingga seperti sedang, hidup di dalamnya dan obsesi kepadanya begitu menguasai diri mereka. Seorang dari mereka minta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengebiri dirinya, agar bisa beribadah dengan lebih serius. Tapi, <a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">Rasulullahu Shallallahu Alaihi wa Sallam</a> melarang tindakan seperti itu, sebab bertentangan dengan petunjuk beliau dan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Islam pada manusia. Jika seorang dari mereka berceramah usai shalat-shalat wajib, ia mendorong mereka cinta akhirat, lalu mereka <a href="http://caksub.com/perasaan-merasa-berdosa.html">merasa dekat dengannya</a>. Jika mereka mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercerita kepada mereka tentang surga dan kenikmatannya, maka salah seorang dari mereka rindu mati syahid saat itu juga, agar dapat segera merasakan kenikmatan-kenikmatan surga.</p>
<p><strong>Contoh-contoh dari mereka sebagai berikut:</strong><span id="more-19"></span><!--Baca Selanjutnya--></p>
<p><strong>1. Umair bin Al-Hammam</strong><br />
Umair bin Al-Hammam mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam memberi iming-iming surga kepada para sahabat di Perang Badar, lalu ia membuang beberapa biji kurma dari kedua tangannya sambil berkata, “Ah, aku bisa masuk surga jika dibunuh orang-orang kafir itu.”<br />
Usai berkata seperti itu, Umair bin Al-Hammam bertempur, hingga gugur sebagai syahid.</p>
<p><strong>2. Anas bin An-Nadhr</strong><br />
Anas bin An-Nadhr menyatu dengan Akhirat, hingga merasa mencium aroma surga. Ia berkata kepada Anas bin Muadz saat bertemu dengannya di Perang Uhud, “Hai Sa’ad, demi Tuhannya Anas, aku mencium aroma surga dari balik Gunung Uhud.”</p>
<p><strong>3. Ja’far Abu Thalib</strong><br />
Seorang saksi mata dari Bani Murrah bin Auf, yang ikut bertempur di Perang Mu’tah menuturkan, “Demi Allah, aku lihat Ja’far bin Abu Thalib turun dari kudanya berwarna blonde, lalu menyembelihnya. Setelah itu, ia bertempur melawan musuh, hingga gugur sebagai syahid. Sebelum syahid, ia berkata,</p>
<p>‘Sungguh dekat surga itu<br />
Indah dan airnya dingin<br />
Sungguh, siksa bagi orang-orang Romawi kian dekat<br />
Mereka kafir dan nasab mereka tidak jelas’.”</p>
<p><strong>4. Abdullah bin Mas’ud</strong><br />
Seperti para sahabat lainnya, Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu mengaitkan apa yang ia lihat dengan akhirat. Diriwayatkan, ia berjalan melewati orang-orang yang sedang meniup alat peniup angin, lalu ia tidak sadarkan diri.<br />
Dikisahkan lainnya, Abdullah bin Mas’ud berjalan melewati pandai besi dan melihat satu batang besi yang menganga, lalu ia menangis.”</p>
<p><strong>5. Hammamah bin Abu Hammamah</strong><br />
Dikisahkan, Hammama bin Abu Hammamah menginap pada suatu malam di rumah seorang tabi’in, Haram bin Hayyan Al-Abdi. Hammamah bin Abu Hammamah dilihat Haram bin Hayyam Al-Abdi menangis semalam suntuk. Haram bin Hayyam Al-Abdi berkata kepada Hammamah bin Abu Hammamah, “Kenapa engkau menangis?<br />
Hammamah bin Abu Hammamah menjawab, “Aku ingat suatu malam, di mana kubur menjadi berserahkan pada pagi harinya.”<br />
Pada malam kedua, Hammamah bin Abu Hammamah menginap lagi di rumah Haram bin Hayyam Al-Abdi dan menangis semalam suntuk. Haram bin Hayyam Al-Abdi berkata kepada Hammamah bin Abu Hammamah, “Kenapa menangis?”<br />
Hammamah bin Abu Hammamah menjawab, “Aku ingat suatu malam, di mana bintang-bintang berguguran pada esok paginya.”<br />
Bentuk lain keterikatan Hammamah bin Abu Hammamah dengan akhirat ialah ia berkata menyerbu Ashfahan pada zaman Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, “Ya Allah, Hammamah mengaku ingin segera bertemu dengan-Mu. Ya Allah, jika ia benar seperti itu, kuatkan keinginan karena kejujurannya. Jika bohong, buat dia berkeinginan seperti itu, kendati ia sebenarnya tidak menghendakinya. Ya Allah, jangan pulangkan Hammamah dari perjalannya.” Ia meninggal dunia di Ashfahan.<br />
Dikisahkan, Hammamah bin Abu Hammamah dan rekan sejawatnya, Haram bin Hayyam, bertemu pada suatu siang, lalu keduanya pergi ke pasar parfum dan berdoa minta surga kepada Allah. Lalu, keduanya pergi ke tukang besi dan minta perlindungan dari neraka. Setelah itu, keduanya pulang ke rumahnya masing-masing.</p>
<p><strong>Generasi Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in</strong><br />
Itulah sebagian figur generasi sahabat yang saya tulis, demi menghormati mereka. Setelah mereka, datanglah generasi tabi’in dengan generasi tabi’ tabi’in, yang memberi contoh figur-figur hebat bagi umat ini, setelah para sahabat. Di antara mereka adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Al-Hasan Al-Bashri</strong><br />
Al-Hasan Al-Bashri murid generasi sahabat dan seluruh hidupnya menyatu dengan akhirat. Shalih bin Hassan berkata, “Suatu ketika, Al-Hasan Al-Bashri berpuasa, lalu kami datang kepadanya dengan membawa makanan saat maghrib tiba.” Ketika Shalih bin Hassan berada di dekat Al-Hasan Al-Bashri, Shalih bin Hassan berkata, “Aku bacakan ayat ini kepada Al-Hasan Al-Bashri,</p>
<p>‘Sesungguhnya pada kami ada belenggu-belenggu berat dan neraka menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat dari kerongkongan dan adzab pedih.’ (Al-Muzammil: 12-13)</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri tidak menjamah makanan yang dibawah untuknya. Ia berkata, ‘bawa ke sana makanan ini.’ Kami pun mengambil makanan itu. ia meneruskan puasanya sampai esok paginya. Ketika ia ingin berbuka puasa, ia ingat ayat tadi, lalu berbuat seperti kemarin.<br />
Pada hari ketiga, anaknya pergi kepada Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Buka’, dan beberapa rekan Al-Hasan Al-Bashri, lalu berkata, ‘Tolong temui ayahku, sebab ia tidak makan makanan sedikit pun sejak tiga hari yang lalu. Setiapkali aku menghidangkan makanan untuk buka puasa, ia ingat ayat ini,</p>
<p>‘Sesungguhnya pada kami ada belenggu-belenggu berat dan neraka menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab pedih.’ (Al-Muzammil: 12-13)</p>
<p>Lalu, teman-teman Al-Hasan Al-Bashri datang menemui Al-Hasan Al-Bashri dan lama berada di tempatnya, hingga akhirnya menyuapinya dengan seteguk tepung.”<br />
Al-Hasan Al-Bashri sengaja tidak makan bukan karena sok zuhud, namun karena kuatnya obsesi kepada akhirat yang ia miliki. Ingat kedahsyatan akhirat membuatnya tidak punya selera makan.</p>
<p><strong>2. Sufyan Ats-Tsauri</strong><br />
Tentang Sufyan Ats-Tsauri, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia syaikhul Islam. Imam para hafidz, dan tokoh ulama aktivis pada zamannya.”<br />
Ia berbicara seperti pernah melihat langsung karena begitu kuat lengketnya dengan akhirat dan dominasi obsesi kepada akhirat pada dirinya.<br />
Ibnu Mahdi berkata, “Jika kami berdiri berada dekat Sufyan Ats-Tsauri, ia seperti berdiri untuk menghadapi hari hisab.”<br />
Salah seorang pengikutnya, orang zuhud Yusuf bin Asbath, berkata tentang kelengketan Sufyan Ats-Tsauri dengan akhirat, “Setelah shalat Isya’, Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadaku, “Tolong ambilkan baskom untukku.” Lalu, ia mengambiolnya dengan tangan kananya dan meletakkan tangan kirinya di atas pipinya. Setelah itu, aku tidur dan baru bangun ketika fajar terbit. Aku lihat baskom masih ada di tangan Sufyan Ats-Tsauri dan tangan kirinya di atas pipinya. Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, fajar telah terbit.’ Ia berkata, ‘Sejak menerima baskom tadi aku memikirkan akhirat hingga detik ini.”<br />
Para pengikutnya tidak hanya belajar hadits padanya. Mereka juga menirunya di semua hal kecil hidupnya siang malam, karena tahu Sufyan Ats-Tsauri tidak suka amal perbuatannya dipublikasikan. Terutama aktivitas malamnya saat ia bermunajat kepada Allah Ta’ala. Salah seorang muridnya pura-pura tidur untuk mengenalinya lebih dekat, agar bisa menceritakan apa yang ia lihat pada Sufyan Ats-Tsauri kepada orang-orang yang ingin memegang panji ini dan berjalan di atas jalan orang-orang yang gberobsesi kepada akhirat. Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak pernah bergaul dengan orang yang lebih perasa dari Sufyan Ats-Tsauri. Aku pantau dia dari satu malam ke malam lain. Ternyata, ia hanya tidur di permulaan malam, lalu bangun dalam keadaan cemas dan gemetar, sambil berkata, ‘Neraka, neraka. Ingat neraka membuatku tidak bisa tidur dan lupa syahwat.’ Setelah itu, ia berwudhu dan berdo’a, ‘Ya Allah, Engkau tahu segala kebutuhanku dan aku hanya memintamu membebaskanku dari neraka. Tuhanku, kecemasan nikimat yang Engkau berikan kepadaku. Tuhanku, andai aku punya alasan kuat untuk mengisolir dari diri manusia, aku tidak bergaul dengan mereka sekejap mata pun.’ Setelah itu, ia shalat dan menangis, hingga tidak bisa membaca Al-Qur’an dan aku tidak dapat mendengar bacaannya, karena tangisnya menjadi-jadi. Aku tidak sanggup melihatnya, karena malu dan segan kepadanya.”</p>
<p><strong>3. Manshur bin Zadzan</strong><br />
Menurut Ibnu Hajar, Manshur bin Zadzan orang terpercaya, tegar, dan ahli ibadah. Seorang syaikh dari wasith bernama Abu Said, tetangga Manshur bin Zadzan, berkata, “Pada suatu hari, aku lihat Manshur bin Zadzan wudhu. Usai wudhu, kedua matanya mengucurkan air mata. Ia menangis terus, hingga suaranya semakin keras. Aku berkata kepadanya, ‘Ada apa denganmu, semoga Allah merahmatimu?’ Manshur bin Zadzan berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih besar dari urusanku? Aku ingin berdiri di depan Dzat yang tidak tidur dan mengantuk. Tapi, aku khawatir Dia Memalingkan muka dariku.’ Demi Allah, aku menangis karena perkataannya itu.”</p>
<p><strong>4. Rabi’ah Asy-Syamiyah</strong><br />
Ia bukan Rabi’ah al-Adawiyah, wanita ahli ibadah yang tersohor itu, dan lebih “kecil” darinya. Ia istri orang ahli ibadah dan orang zuhud, Ahmad bin Abu Al-Hawari. Tentang Ahmad bib Abu Hawari, Yahya bin Muin berkata, “Aku pikir orang-orang Syam diberi hujan oleh Allah sebab orang seperti Ahmad bin Abu Hawari.”<br />
Wanita ahli ibadah dan lengket dengan akhirat ini, Rabi’ah Asy-Syamiyah, berkata, “Setiapkali mendengar adzan, aku ingat penyeru <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">Hari Kiamat</a>. Setiapkali melihat salju, aku lihat buku-buku catatan amal perbuatan berterbangan. Dan, setiapkali melihat belalang, aku ingat hari pengumpulan manusia di Padang Mahsyar.”<br />
Begitulah, generasi sahabat terangkai dengan generasi tabi’in dan tabi’ tabi’in,  untuk membentuk sebuah “serial” yang tidak henti-hentinya menyuplai figur-figur yang berobsesi kepada akhirat, hingga akhirat tetap menyala di hati kaum Mukmin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/contoh-figur-figur-yang-berobsesi-kepada-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Kepemimpinan Lelaki &amp; Kepatuhan Wanita</title>
		<link>http://www.caksub.com/nilai-kepemimpinan-lelaki-kepatuhan-wanita/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/nilai-kepemimpinan-lelaki-kepatuhan-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 07:11:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/nilai-kepemimpinan-lelaki-kepatuhan-wanita.html</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman, yang Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Allah Ta’ala berfirman, yang Artinya:</p>
<p>“<span style="font-weight: bold">Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita</span>, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik). (QS An-Nisaa’/ 4:34).</p>
<p>Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita, dan menjelaskan tentang wanita shalihah.<br />
Menurut Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, pembesarnya, hakim atasnya, dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan tertinggi. Karena <a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam</a> bersabda:<span id="more-16"></span></p>
<p>“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).</p>
<p>Ibnu Katsir melanjutkan, dan demikian pula (khusus untuk lelaki) jabatan qodho’/ kehakiman dan hal-hal lainnya. Karena laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka, yaitu berupa mahar/ maskawin, nafkah-nafkah dan beban-beban yang diwajibkan Allah atas lelaki untuk menjamin perempuan. Maka dalam diri lelaki itu ada kelebihan dan keutamaan atas perempuan, hingga sesuailah kalau lelaki itu menjadi pemimpin atas perempuan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang Artinya:</p>
<p>“Dan laki-laki memiliki satu derajat lebih atas wanita” . (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz I, halaman 608, atau juz II, halaman 292 tahqiq Sami As-Salamah).</p>
<p>Penjelasan Ibnu Katsir itu ada rincian yang senada yaitu perkataan Abu As-Su’ud: “Dan pengutamaan bagi kaum laki-laki itu karena kesempurnaan akal, bagusnya pengaturan, kesungguhan pandangan, dan kelebihan kekuatannya. Oleh karena itu ada kekhususan bagi laki-laki yaitu mengenai an-nubuwwah (kenabian), al-imamah (kepemimpinan), al-wilayah (kewalian), as-syahadah (kesaksian &#8211;dalam perkara pidana, wanita tidak boleh jadi saksi, hanya khusus lelaki, pen) jihad dan hal-hal lainnya. (Irsyaadul ‘Aqlis Saliim, 1/339).</p>
<p><span style="font-weight: bold">Wanita shalihah</span><br />
Selanjutnya, arti ayat:</p>
<p>“Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri,” maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya; “ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).”</p>
<p>Ini adalah rincian keadaan wanita di bawah kepemimpinan lelaki. Allah Ta’ala telah menyebutkan bahwa wanita itu ada dua macam. Yang satu adalah wanita-wanita shalihah muthi’ah (baik lagi taat) dan yang lain adalah ‘ashiyah mutamarridah (bermaksiat lagi menentang).<br />
Wanita-wanita shalihah muthi’ah adalah taat kepada Allah dan suaminya, melaksanakan hak-hak dan kewajiban yang ada pada dirinya, menjaga dirinya dari kekejian (zina), dan menjaga harta suaminya dari pemborosan. Sebagaimana mereka menjaga hal-hal yang berlangsung antara dirinya dan suaminya yang wajib disembunyikan dan menjaga baik-baik kerahasiaannya. Di dalam hadits disebutkan:</p>
<p>“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek manusia bagi Allah tempatnya di <a href="http://caksub.com/bentuk-bentuk-penyesalan-pada-hari-kiamat.html">hari kiamat</a>, (yaitu) laki-laki yang menggauli (menyetubuhi) isterinya dan isterinya pun menggaulinya, kemudian salahsatunya menyiarkan rahasia teman bergaulnya itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).</p>
<p><span style="font-weight: bold">Keadaan masyarakat jahil </span><br />
Aturan dalam Al-Quran telah tegas dan jelas, lelaki itu pemimpin atas wanita, sedang wanita itu dipentingkan ketaatannya kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada suaminya. Namun kepemimpinan lelaki ataupun ketaatan wanita seakan tidak dianggap penting dalam dunia jahil. Hingga muncul kondisi yang ironis, tidak sesuai aturan. Ada wanita yang diangkat-angkat oleh orang-orang jahil melebihi kodratnya dan melanggar aturan agama. Sebaliknya, ada wanita-wanita yang diperlakukan oleh orang-orang jahil sebagai barang mainan, yang hal itu melanggar kodratnya atau fitrahnya, disamping melanggar aturan agama. Seharusnya, wanita mendapat perlindungan, pemeliharaan dari para suami dan bahkan masyarakat. Namun, justru wanita dijadikan alat untuk melariskan hal-hal yang tak terpuji atau tak sesuai dengan ajaran Islam, misalnya tontonan. Sehingga wanita yang sebenarnya terhormat itu kemudian dijadikan bahan tontonan.</p>
<p>Ada orang tua atau suami yang merelakan wanitanya jadi penyanyi, penjoget, pelawak, pelaku adegan-adegan film atau sinetron tak senonoh yang ditonton banyak orang. Ada orang tua dan suami-suami yang merelakan wanitanya dijadikan pajangan untuk menarik pembeli atau konsumen di toko-toko, di bank-bank, di pameran-pameran perdagangan, di hotel-hotel dan sebagainya. Jual beli antara lelaki dan perempuan pada asalnya mubah, boleh-boleh saja. Tetapi sekarang wanita di pertokoan bukan sekadar sebagai pelayan, namun sebagai alat penarik konsumen, hingga wanita-wanita pelayan itu diseragami pakaian yang setengah telanjang. Ini sudah bertentangan dengan aturan Islam. Dan bahkan ada orang tua atau suami yang merelakan wanitanya dijadikan mainan oleh orang lain. Na’uudzu billaahi min dzaalik. Lelaki yang demikian itu adalah dayyuts, tidak merasa cemburu terhadap keluarganya yang berbuat sesuatu dengan lelaki lain. Menurut Hadits Nabi, surga haram atas lelaki dayyuts.</p>
<p>“Tiga orang yang tidak masuk surga (yaitu): orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, dayyuts (laki-laki yang membiarkan kemaksiatan pada keluarganya), dan perempuan yang menyerupakan dirinya dengan laki-laki.” (Hadits Riwayat Al- Hakim dan Al-Baihaqi, hadits hasan dari Ibnu Umar).</p>
<p>Jadi lelaki yang merelakan isterinya ataupun anak-anaknya dijadikan pajangan padahal seharusnya lelaki itu punya rasa cemburu dan menjaganya, namun justru merelakannya, maka bisa dimasukkan dalam lingkungan yang mengarah pada dayyuts. Maka betapa ruginya. Akibat merelakan keluarganya (yang wanita) dijadikan pajangan itu kemudian menjadikan haramnya surga baginya. Ia tidak akan masuk surga. Sehingga, hanya kerugian lah yang didapat. Kesenangan di dunia tidak seberapa, namun haramnya masuk surga telah mengancamnya. Inilah yang mesti kita berhati-hati benar dalam hal menjaga diri dan keluarga kita.<br />
Dianggap lumrah dan biasa.</p>
<p>Sangat disayangkan sekali, dunia jahil telah memupuk aneka macam pelanggaran seperti tersebut diatas menjadi pemandangan yang biasa. Dianggapnya tidak ada masalah. Padahal, semua tontonan dan pekerjaan yang menarik konsumen dengan cara memajang wanita itu sudah mengikuti bujukan syetan, sekaligus melanggar aturan Allah. Allah memerintahkan agar kita menahan sebagian pandangan kita terhadap lain jenis (lihat QS An-Nuur: 30-31) namun justru orang-orang yang mendukung dunia jahil ini menarik-narik manusia agar membuka mata lebar-lebar untuk “menikmati” wanita yang mereka pajang. Itu semua alurnya adalah mendekatkan kepada zina. Sedangkan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala menegaskan:</p>
<p>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan satu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32).</p>
<p>Dalam ayat itu ditegaskan, tidak boleh mendekati zina. Ini telah mencakup larangan segala hal yang menghantarkan kepada perbuatan zina. Memajang wanita-wanita dalam aneka pergaulan hidup yang dimaksudkan untuk menarik konsumen ataupun pelanggan atau penonton itu sudah termasuk sarana mendekatkan ke arah zina. Karena hal itu sudah merupakan sarana atau penghantar, maka terkena kaidah hukum itu mencakup sarananya. Mendekati zina itu jelas telah dilarang dengan tegas oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala. Maka mengadakan sarana untuk dekat dengan zina atau yang jurusannya mendekati zina berarti haram pula.</p>
<p>Lebih dari itu, ayat tersebut mengandung makna, lebih terlarang lagi adalah zinanya itu sendiri. Karena mendekati zina saja sudah dilarang. Inilah yang di dalam ilmu ushul fiqh disebut Qiyas Aulawi”. Contohnya, mengatakan uf/ hus kepada orang tua saja diharamkan, apalagi memukulnya, maka lebih lagi haramnya. Jadi, mendekati zina saja dilarang, apalagi berzina. Itulah pengertiannya.</p>
<p>Dengan demikian, ayat tersebut sangat strategis sifatnya. Yaitu, ke bawah: sarana-sarana dan perbuatan yang menjurus pada pendekatan zina sudah ikut terlarang. Sedang ke atas: perbuatan zina itu sendiri lebih terlarang lagi.<br />
Aturan di dalam Islam sebegitu jelas dan gamblang, namun dalam dunia yang jahil orang yang menyepelekan bahkan justru menggalakkan hal-hal yang menjurus pada pendekatan zina, bahkan membolehkan perzinaan itu sendiri lebih dihormati. Ini benar-benar keterlaluan.</p>
<p><span style="font-weight: bold">Wanita shalihah sangat terpuji </span><br />
Islam memberikan imbalan pahala sesuai dengan kadar kepayahan atau <a href="http://caksub.com/awaluddin-batubara-sehari-6-juz.html">usaha manusia</a>. Wanita dari zaman ke zaman, oleh orang-orang jahil merupakan sasaran yang paling utama untuk dijadikan daya pikat. Memerankan wanita sebagai daya pikat itu sendiri sudah merupakan pelanggaran sebagaimana diuraikan di atas. Maka Islam memberikan antisipasinya atau pencegahannya, yaitu pertama dengan melarang manusia mendekati zina, dan kedua memberikan tempat yang terpuji bagi wanita yang shalihah.</p>
<p>Islam menempatkan wanita shalihah dalam kedudukan yang terpuji itu bisa difahami pula bahwa untuk membina wanita agar jadi shalihah, serta wanita itu sendiri dalam berupaya menjadi wanita shalihah adalah perkara yang besar. Perkara yang banyak godaannya. Kenapa? Karena, manusia jahil telah menjadikan wanita sebagai sasaran untuk dijadikan daya pikat, dan itu jelas bertentangan dengan Islam. Sedangkan wanita itu sendiri didudukkan oleh manusia-manusia jahil pada posisi yang enak, yang menggiurkan, bila mau melanggar aturan Islam. Sehingga wanita itu sendiri akan sulit mempertahankan diri agar menjadi orang yang shalihah alias taat aturan Allah dan RasulNya. Maka sesuai dengan istilah &#8220;aljazaa’u min jinsil ‘amal,” imbalan itu sesuai dengan perbuatan, maka wanita shalihah sangat dihormati dalam Islam karena memang sulit melakukannya. Bukan sulit karena secara naluriah, namun sulit karena lebih banyak godaannya, baik dari dalam nafsu wanita itu sendiri maupun faktor dari luar, lingkungan yang jahil.</p>
<p>Dari sini bisa difahami betapa terpujinya wanita yang baik yang istilahnya wanita shalihah. Yaitu wanita yang menuruti aturan agama suci dengan patuh, yang otomatis mampu menjalani sikap dan perilaku tanpa melanggar ajaran Ilahi, yang mencakup segi kehidupan demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Terhadap wanita shalihah itu, ada pula pujian simpati dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :</p>
<p>“Dunia ini adalah perhiasan yang menyenangkan hati. Dan sebaik-baik perhiasan yang menyenangkan itu adalah wanita yang shalihah/ baik. (Hadits Riwayat Muslim dan An-Nasa’i).</p>
<p>Di sini jelas, betapa tingginya nilai wanita shalihah itu. Dia paling baik di antara hal yang mesti disenangi manusia. Berarti sudah merupakan puncak yang tiada saingannya lagi.<br />
Bila kita perbandingkan, kejadian manusia itu sendiri adalah bentuk yang paling baik. Seperti firman Allah dalam Surat, Attien:</p>
<p>“&#8230;Sungguh Kami telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikannya jadi serendah-rendahnya yang rendah (masuk neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih maka mereka akan memperoleh pahala yang tak putus-putusnya.&#8221; (QS. At-Tien: 4, 5, 6).</p>
<p>Di dalam ayat itu dinyatakan, <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">manusia dibuat dalam bentuk yang paling baik</a>. Di balik bentuknya yang paling baik, ternyata disebutkan, akan dikembalikan menjadi sesuatu yang paling rendah di antara yang rendah, kecuali yang beriman dan berbuat baik. Kalau diperbandingkan, wanita disebut hiasan yang paling menyenangkan berarti di balik itu ada yang bahkan paling tidak menyenangkan. Ya, memang betul demikian adanya. Hasil perbandingan itu diperkuat atau punya alasan Hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam :</p>
<p>&#8220;Di antara (unsur) kebahagiaan anak Adam (manusia) adalah tiga hal. Dan di antara (unsur) sengsaranya ibnu Adam ada tiga (juga). Di antara unsur kebahagiaan manusia yaitu, wanita/ isteri yang shalihah/ baik, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Dan di antara (unsur) penderitaan manusia adalah: wanita / isteri yang buruk (tidak shalihah), tempat tinggal yang jelek, dan kendaraan yang jelek.&#8221; (Hadits shahih riwayat Ahmad, At-Thabrani, dan Al-Bazzar dari Sa&#8217;ad bin Abi Waqash)</p>
<p>Nah, dalam hadits itu dijelaskan, wanita/ isteri yang shalihah adalah unsur kebahagiaan. Tapi sebaliknya, wanita/ isteri yang jahat adalah unsur penderitaan. Dalam Hadits itu ternyata wanita atau isteri disebut sebagai unsur pertama dalam hal kebahagiaan maupun kesengsaraan. Wanita diucapkan dalam deretan yang pertama dari tiga unsur kebahagiaan maupun kesengsaraan.<br />
Jadi wanita merupakan unsur yang paling extrim, sebagai andalan. Berarti sejalan pula dengan pernyataan perbandingan tadi. Bahwa wanita shalihah itu paling menyenangkan, tapi sebaliknya, wanita yang bukan shalihah itu adalah paling menyebalkan.</p>
<p><span style="font-weight: bold">Wanita shalihah dan suami taqwa </span><br />
Nabi n membela dan mengangkat martabat wanita, sampai memuji dan menyebutkan fungsi kedudukan wanita shalihah lagi menyenangkan. Hal itu bisa disimak pandangan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , yang memuji wanita shalihah:</p>
<p>&#8220;Tidak ada keuntungan orang mukmin setelah taqwa kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla yang lebih baik baginya dibanding mempunyai isteri yang shalihah/ baik. Apabila dia (lk) menyuruhnya maka ditaati. Apabila dia (lk) melihatnya, maka isteri itu menggembirakan nya. Apabila ia memberi bagian padanya maka dia menerimanya dengan baik. Dan apabila ia tidak ada di rumah maka isteri yang shalihah itu tetap memurnikan cintanya untuk sang suami dalam menjaga dirinya sendiri dan harta suaminya.&#8221; (Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Abi Umamah berderajat hasan/ baik).</p>
<p>Jelas sekali pujian Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam terhadap derajat wanita yang shalihah. Sampai didudukkan sebagai hal yang paling menguntung-kan bagi orang yang taqwa. Berarti dijadikan pendamping paling baik bagi para muttaqin. Sedang derajat taqwa itu adalah derajat paling tinggi di hadapan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala :</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya yang paling mulia dari kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa&#8221;. (QS Al-Hujuraat/ 49: 13).</p>
<p>Jadi, posisi wanita shalihah itu memang benar-benar terpuji dan mulia, sebab dijadikan pendamping orang yang bertaqwa alias yang paling mulia di sisi Allah, dengan disebut sebagai unsur yang paling memberikan keuntungan. Sedang yang menilai derajat tingginya itu ternyata adalah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam lewat Hadits tersebut di atas.<br />
Kita percaya, apa yang disabdakan itu pasti betul. Maka, sebagai penganut ajaran suci dari Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, seharusnya kita berlomba membina wanita, baik itu isteri kita, keluarga kita maupun kerabat agar mencapai derajat prestasi unggul yang sesuai dengan anjuran beliau, yaitu wanita shalihah. Mungkin bisa kita mulai dari sekarang. Mari kita berlomba membentuk wanita shalihah dalam keluarga dan masyarakat Islam. Mudah-mudahan hal ini bisa kita laksanakan. Amien.</p>
<p>Oleh: H. Hartono Ahmad Jaiz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/nilai-kepemimpinan-lelaki-kepatuhan-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengukir Prestasi Dihadapan Ilahi</title>
		<link>http://www.caksub.com/mengukir-prestasi-dihadapan-ilahi/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/mengukir-prestasi-dihadapan-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Sep 2007 05:37:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/mengukir-prestasi-dihadapan-ilahi.html</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia tentunya ingin Mengukir Prestasi Dihadapan Ilahi, telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, artinya: “Hai manusia, sesungguhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap manusia tentunya ingin <strong>Mengukir Prestasi Dihadapan Ilahi</strong>, telah dimaklumi bahwa, manusia pada mulanya berasal dari dua orang sejoli, Nabiyullah Adam dan ibunda Hawa. Daripadanya berkembang menjadi banyak bangsa bahkan suku. Semua manusia dinegara manapun dinisbatkan kepada beliau berdua. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13, artinya:</p>
<p>“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”</p>
<p>Disebutkan dalam ayat ini bahwa kedudukan manusia dihadapan Allah adalah sama, tidak ada perbedaan. Adapun yang membedakan di antara mereka adalah dalam urusan diin (agama), yaitu seberapa ketaatan mereka kepada Allah dan RasulNya.<br />
Al-Hafifzh Ibnu Katsir menambahkan:<span id="more-14"></span></p>
<p>“Mereka berbeda di sisi Allah adalah karena taqwanya, bukan karena jumlahnya”</p>
<p><a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam</a> bersabda:<br />
“Tidaklah seseorang mempunyai keutamaan atas orang lain, kecuali karena diinnya atau amal shalih.”</p>
<p>Saat ini, kehidupan manusia telah berkembang dengan pesat dalam segala aspeknya. Dari segi jumlah mencapai milyaran, dari sisi penyebaran, ratusan bangsa bahkan ribuan suku yang masing-masing mengembangkan diri sesuai potensi yang bisa dikem-bangkan. Darinya pula muncul beragam bahasa, adat istiadat, budaya dan lain-lain, termasuk teknologi yang mereka temukan. Namun, kalau kita renungkan semua itu adalah untuk jasmani kita (saja) agar hidup kita dalam keadaan sehat, tercukupi kebutuhan materi, tidak saling mengganggu, aman tentram dalam mengemban persoalan kehidupan. Inilah tuntutan “kasat mata” <a href="http://caksub.com/hakikatul-insan.html">hidup seorang manusia</a>.</p>
<p>Tak pelak dari perkembangan tersebut menimbulkan rasa gembira, puas, bangga, bahkan lebih dari itu, yakni sombong. Sebagai contoh, negara yang maju, kuat merasa lebih baik dan harus diikuti (baca: ditakuti) oleh negara yang lain. Orang kaya merasa lebih baik dari yang miskin, orang yang mempunyai jabatan dan kedudukan (tertentu yang lebih tinggi) merasa lebih baik dan pantas untuk diikuti oleh yang lain dalam segala tuntutannya. Bahkan kadang-kadang, orang yang ditakdirkan Allah mempunyai “kelebihan” dari orang yang ditakdirkan “kekurangan” itu menyu-ruh (memaksa)-nya untuk mengerjakan hal-hal yang menyalahi ajaran agama Allah.</p>
<p>Begitulah kecenderungan manusia dalam memenuhi hasrat hidupnya, kadang (atau bahkan sering) tidak mempedulikan perintah atau larangan Allah. Padahal dari aturan agama inilah manusia diuji oleh Allah-menjadi hamba yang taat atau <a href="http://caksub.com/maksiat-penduduk-negeri.html">maksiat</a>. Itulah parameter yang pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung-jawabannya.<br />
Tetapi sekali lagi, karena tipisnya ikatan manusia dengan syariat Allah, manusia banyak yang tidak menghiraukan halal atau haram, karena memang manusia “tidak punyak hak” untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, kecuali kembali kepada syariat agama Allah. Karena minimnya ilmu syar’i itulah yang menyebabkan banyak manusia terjerembab ke lembah kedurhakaan dan jatuh ke <a href="http://caksub.com/hubungan-antara-dosa-dan-bencana.html">lumpur dosa</a>. Bahkan tidak menutup kemungkinan, para pelakunya tidak merasa berbuat dosa, atau malah bangga dengan “amal dosa” itu, na’udzubillah.</p>
<p><strong>Renungkanlah syair seorang tabi’in Abdullah Ibnul Mubarak:</strong></p>
<p>“Aku lihat perbuatan dosa itu mematikan hati, membiasakannya akan mendatangkan kehinaan. Sedang meninggalkan dosa itu menghidupkan hati, dan baik bagi diri(mu) bila meninggalkannya”</p>
<p>Prestasi manakah yang akan kita ukir? Prestasi barrun, taqiyyun, karimun (baik, taqwa, mulia!) Ataukah prestasi fajirun, syaqiyun, Dzalilun (ahli maksiat, celaka, hina) Dalam hal mana? Yaitu sejauh mana kita menyikapi ajaran Allah dan RasulNya. Perhatikanlah wasiat Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:</p>
<p>“Wahai manusia, ketahuilah bahwasanya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, setiap ada sehari yang berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.”</p>
<p>• Sudah berapa umur kita yang berlalu begitu saja ..<br />
• Sudah berapa amal taat yang telah kita kumpulkan sebagai investasi di sisi Allah ..<br />
• Sudah berapa pula, amal maksiat yang telah kita lakukan yang menyebabkan kita (nantinya) terseret kedalam Neraka ..</p>
<p>Marilah, <a href="http://caksub.com/istighfar-dan-taubat-adalah-kunci-rizki-barokah.html">segera bertobat</a> untuk ‘mengukir” dengan amal taat terhadap Allah dan Rasulnya.<br />
Umat Islam (termasuk saya dan jama’ah sekalian) telah diberi hidayah berupa Al-Qur’an (dan As-Sunnah). Selanjutnya tinggal bagaimana umat Islam menerjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk zhalimun linafsih, muqtashid, atau saabiqun bil khairat bi idznillah.</p>
<p>Dalam tafsirnya, Al-Hafizh Ibnu Katsir memberikan pengertiannya masing-masing sebagai berikut:</p>
<p>• Zhalimun linafsihi: Orang yang enggan mengerjakan kewajiban (syariat) tetapi banyak melanggar apa yang Allah haramkan (yang dilarang)<br />
• Muqtashid: Orang yang menunaikan kewajiban, meninggalkan yang diharamkan, kadang meninggalkan yang sunnah dan mengerjakan yang makruh.<br />
• Sabiqun bil khairat: Orang yang mengerjakan kewajiban dan yang sunnah, serta meninggalkan yang haram dan makruh, bahkan meninggalkan sebagian yang mubah (karena wara’nya)</p>
<p>Tak seorang pun di antara kita yang bercita-cita untuk mendekam dalam penjara. Apalagi penjara Allah yang berupa siksa api Neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan bebatuan. Tetapi semua itu terpulang kepada kita masing-masing. Kalau kita tidak mempedulikan syari’at Allah, tidak mustahil kita akan mendekam di dalamnya. Na’udzu billah.</p>
<p>Itulah ujian Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasul SAW.</p>
<p>“(Jalan) menuju Jannah itu penuh dengan sesuatu yang tidak disukai manusia, dan (jalan) Neraka itu dilingkupi sesuatu yang disukai oleh syahwat”</p>
<p>Semoga Allah mengumpulkan kita dalam umatNya yang terbaik dan terjauhkan dari ketergelinciran ke dalam jurang kemaksiatan supaya kita bisa <strong>Mengukir Prestasi Dihadapan Ilahi</strong>.</p>
<p>Oleh Suyadi Husein Mustofa</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/mengukir-prestasi-dihadapan-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Kenakalan Anak</title>
		<link>http://www.caksub.com/menghadapi-kenakalan-anak/</link>
		<comments>http://www.caksub.com/menghadapi-kenakalan-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Aug 2007 03:38:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>caksub</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://caksub.com/menghadapi-kenakalan-anak.html</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini sebagian orang tua bersikap reaksioner atas semua tindakan anak, mereka memandang anak sebagai orang dewasa dalam bentuk mini dan semua semua yang dilakukan harus sesuai dengan kelakuan orang tua. Maka jika anak nakal yang dilakukan oleh orang tua biasanya adalah mengurung, mengisolasi dari pergaulan, mengurangi uang saku dan sebagainya. Mengapa orang tua tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini sebagian orang tua bersikap reaksioner atas semua tindakan anak, mereka memandang anak sebagai orang dewasa dalam bentuk mini dan semua semua yang dilakukan harus sesuai dengan kelakuan orang tua. Maka jika anak nakal yang dilakukan oleh orang tua biasanya adalah mengurung, mengisolasi dari pergaulan, mengurangi uang saku dan sebagainya. Mengapa orang tua tidak bertanya kepada diri sendiri ada apa dengan anak saya, apa yang kurang dari diri saya. Tidak mengherankan jika sekarang orang tua banyak yang mengeluh karena anaknya terlibat dan akrab dengan narkoba, diskotik, minum-minuman keras serta pergaulan bebas.<span id="more-11"></span></p>
<p>Orang tua selama ini hanya mampu memberikan ruang dan memenuhi kebutuhan fisiknya sedangkan kebutuhan psikisnya terabaikan. Bagaimana tidak terabaikan jika mereka hanya dirawat dan dididik oleh pembantu yang kurang pendidikannya sekalipun ayah ibunya seorang doktor. Bukankah sayang jika permata hati kita nantinya hanya generasi yang penuh dengan daging tambun sedangkan hatinya keropos dari nilai-nilai dan ruh agama maupun ilahiyah. Padahal anak sesuai dengan fitrahnya merupakan amanat Allah yang harus dijaga, dipelihara, dan dirawat dengan kesabaran disertai dengan tawakkal untuk tetap berdo’a semoga diberi <a href="http://caksub.com/awaluddin-batubara-sehari-6-juz.html">anak-anak yang shalih</a>, bukan cuma cerdas dan berprestasi di sekolah semata akan tetapi mampu menjadi qurratu a’yun di masa depan.<br />
Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 74:</p>
<p>“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan anak-anak yang jadi permata hati dan jadikanlah kami pemimpin yang bertaqwa”.</p>
<p>Tidak mengherankan jika Allah selalu berpesan bahwa anak-anak adalah perhiasan. <a href="http://caksub.com/siapakah-rasulullah-muhammad-saw-itu.html">Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam</a> adalah sebaik-baik contoh dalam memperlakukan anak. Bagaimana Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak cucu-cucunya bermain, mengajarkan cinta kepada anak-anak kepada para sahabatnya.<br />
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia berkata:</p>
<p>“Pernah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menciumi Hasan putra Ali dimana pada saat itu ada Aqra’ Ibnu Habis Attamimy duduk. Dia lalu berkata, “Saya mempunyai sepuluh orang anak tidak pernah satupun dari mereka saya cium”. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam melihat kepadanya dan berkata:</p>
<p>“Siapa yang tidak merahmati tidak dirahmati (oleh Allah)” (HR. Al-Bukhari dan muslim).</p>
<p>Mencium anak-anak merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua kepada anak sekaligus merupakan contoh riil agar anak tidak mencium kepada orang lain yang bukan mahramnya. Pengalaman orang tua sering mencium anaknya sampai mereka dewasa tidak akan menjadikan anak-anak mencium orang lain apalagi sampai berbuat zina karena mereka sendiri telah merasa kecukupan dengan kasih sayang dari orang tua insya Allah mereka akan menjadikan anak-anak yang diharapkan.</p>
<p><strong>Apa yang sudah dicontohkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam menegaskan</strong> bahwa:<br />
1. Wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya.<br />
2. Kewajiban tersebut wajar karena Allah menciptakan orang tua yang bersifat mencintai anak-anaknya.</p>
<p>Jadi yang pertama hukumnya wajib, kedua karena orang tua senang mendidik anak-anaknya. Inilah modal utama bagi pendidikan dalam keluarga itu dilaksanakan dan apa tujuannya, serta kapan mulainya.<br />
Cinta kepada anak seringkali menyebabkan orang tua membanggakan anaknya. Mereka sering dengan semangat meluap-luap menceritakan anaknya kepada tamunya atau kawan-kawannya. Terutama mengenai kecerdasannya, kelucuannya, kepintarannya, keberaniannya dan kegemasannya. Kadang-kadang cerita ini menjemukan orang yang mendengarkannya. Sebaliknya tak ada orang yang ingin menceritakan kepada tamunya bahwa anaknya bodoh, nakal, penakut dan sebagainya.</p>
<p>Anak sering pula menyebabkan orang tua lupa kepada Allah dan RasulNya. Saking sibuknya mengurus anak-anaknya, mereka bekerja mati-matian mencari uang agar semua permintaan anaknya dapat terpenuhi. Kadang-kadang permintaan yang tidak masuk akalpun dipenuhi, demi cintanya kepada anak. Sayang anak tidak jarang menyebabkan orang tua korupsi dan mencuri.<br />
Kadang-kadang karena merasa anak-anaknya kuat, cerdas, juara kelas, pemberani, maka orang tua merasa hidupnya akan aman. Oleh karena itu mereka mulai meninggalkan Tuhan. Seringkali orang tua membela anaknya yang berbuat salah sampai orang tua lupa bahwa membela yang salah adalah pelanggaran aturan Allah.</p>
<p>Orang tua dapat juga menjadi budak anaknya, dikala ia merasa wajib memenuhi segala keinginan anaknya. Kewibawaan orang tua telah hilang, karena ia kalah dan dibentuk oleh anaknya karena terlambat atau tidak mampu memenuhi permintaan anaknya. Seperti tidak berani membangunkan anaknya untuk shalat Subuh karena takut anaknya kaget atau marah.<a href="http://caksub.com/awaluddin-batubara-sehari-6-juz.html">Ayat Al-Qur’an</a> berikut dapat menjadi renungan untuk kita seperti yang tertera dalam Surat Saba’ ayat 37:</p>
<p>“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan diri kalian kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih.”</p>
<p>Berdasarkan ayat tadi bagi orang tua mendidik anak adalah kewajaran, karena kodratnya; selain itu karena cinta. Mengingat uraian di atas, maka secara sederhana tujuan pendidikan anak di dalam keluarga ialah agar anak itu menjadi <strong>anak yang shalih</strong>. Anak seperti itulah yang patut dibanggakan. Tujuan lain adalah sebaliknya, yaitu agar anak itu kelak <strong>tidak menjadi musuh bagi orang tuanya</strong>.<br />
Anak yang saleh dapat mengangkat nama baik orang tuanya, karena anak adalah dekorasi keluarga dan mendo’akan orang tuanya kelak. Bila tidak mendo’akan orang tua, keshalihannya telah cukup merupakan bukti amal baik bagi orang tuanya.</p>
<p>Pada suatu waktu orang tua amat susah karena anaknya nakal. Orang tua yang menduduki posisi terhormat dimasyarakat akan jatuh wibawanya karena anaknya yang nakal. Seorang pemimpin masyarakat bila anaknya terlibat kenakalan khas remaja masa kini, misalnya terlibat masalah jual beli obat-obatan terlarang akan jatuh martabatnya dimata masyarakat. Bahkan mungkin saja orang tua akan dipecat dari jabatannya hanya karena kenakalan anaknya.<br />
Kapankah sebaiknya kita mulai mendidik anak? Jawabannya tidak lain adalah semenjak masih dalam masa konsepsi. Bahkan dalam Islam dimulai semenjak memilih pasangan hidup, kemudian saat hamil, saat lahir, saat anak-anak sampai dewasa. Mengenalkan mereka dengan asma-asma Allah, tentang tauhid, tentang akhlaq dan sebagainya.</p>
<p>Lalu bagaimana jika cara tersebut sudah dilaksanakan dan anak-anak tetap saja nakal? Sabar, tawakkal dalam menghadapinya adalah obat terbaik sambil tetap berdo’a memohon kepada Allah agar kenakalannya tidak membawa madlarat bagi dirinya sendiri, orang tuanya dan masyarakatnya.</p>
<p>Oleh: Nafisah Amron</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.caksub.com/menghadapi-kenakalan-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

